|

Awas!! Stigmatisasi Ambon Diidentikan Dengan Preman

Oleh: Andre Makatitta 

Icon Kota Ambon Pattimura

Icon Kota Ambon Pattimura

Bebereapa hari terakhir jika kita mengikuti perkembangan media, tentu kita menyaksikan berita tentang saudara-saudara kita asal Ambon Maluku yang ada di jakarta mengalami beberapa kasus kriminal yang dituduhkan kepada mereka walaupun itu belum sepenuhnya bisa dibuktikan bahwa mereka bersalah atau tidak atas perbuatan kriminal seperti yang di beritakan media, yang pasti soal salah benar kita serahkan untuk keputusan hukum yang menentukan.
Saya sempat mengkikuti perkembangan diskusi-diskusi di beberapa forum-forum umum online dan jejaring sosial, dari diskusi-diskusi tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa rata-rata orang yang terlibat dalam diskusi mulai membangun opini di kepala mereka dan menuangkannya dalam bentuk komentar-komentar yang agak miring tentang orang Ambon, bahwa “Ambon itu identik dengan kekerasan dan premanisme” jujur saja Saya menentang opini-opini seperti ini, mungkin saja di antara kita orang Maluku senang dengan stigmatisasi ini dengan alasan agar disegani orang dari daerah-daerah lain terutama ketika berada di ibukota Jakarta, tapi bagi saya ini stigmatisasi yang amat sangat tidak enak untuk di sematkan menjadi jati diri kita orang Maluku khususnya yang ada di Ambon.
Dalam kasus lain yang saya pribadi alami ketika bertemu dengan beberapa orang di jakarta untuk bicara bisnis mereka bertanya kepada saya “bung Ambon ya?” mungkin dari warna kulit mereka sudah mengenali saya yang memiliki ciri orang Ambon, saya jawab “iya saya orang Ambon”, lanjut mereka “wah orang Ambon itu galak-galak ya..” wah… kalau sudah begini akhirnya saya harus membuang waktu lagi untuk menjelaskan kepada mereka bahwa orang Ambon tidak seperti yang mereka pikirkan, urusan bisnis bisa-bisa batal lantaran hanya karena saya orang Ambon hehehe.

Urusan premanisme harus di kategorikan terpisah dan tidak diidentikan dengan Ambon atau Maluku, preman ya preman Ambon ya Ambon tidak ada kalimat “Preman Ambon”, memang tidak dapat disangkal bahwa beberapa orang yang terlibat kasus kriminal di jakarta seperti yang kita ikuti di media kasus John Kei dan kasus pengeroyokan di RSPAD Gatot Subroto mereka kebetulan berdarah Maluku, namun hal ini bukan menjadi alasan membuat stigma baru kepada kita orang Maluku yang identik dengan premanisme dan kekerasan

Dari segi sejarah, Maluku memang bangsa yang identik dengan perang, ini tergambar jelas dari budaya kita turun-temurun misalnya saja bentuk tari-tarian, hampir sebagian besar daerah-daerah di maluku memiliki tarian perangnya masing-masing, yang paling terkenal CAKALELE, selanjutnya Thomas Matulessy/Pattimura yang memegang parang dan salawaku, lalu Christina Martha Tiahahu pahlawan perempuan Maluku yang memegang tombak, akan tetapi icon-icon ini juga bukan menjadi alasan mendasar untuk kita mengidentikan jati diri kita dengan perang dan kekerasan, lebih cocok jika icon-icon Maluku seperti yang disebutkan di atas menjadi kebanggan dalam semangat dan keberanian untuk memperjuangan hak-hak masyarakat Maluku yang belum diperoleh, juga keinginan yang kuat untuk membebaskan Maluku dari ketertinggalan dan kemiskinan yang kita alami saat ini, bagi saya ini lebih pantas untuk kita.

Memang tidak gampang merubah opini publik dalam waktu singkat akibat dari kejadian-kejadian kriminal yang melibatkan anak-anak Maluku di Jakarta yang sudah tereskpos di media, kita sebagai anak-anak Maluku yang hidup di kota Ambon saat ini, mudah-mudahan bisa mengambil hikmah dari kejadian-kejadian seperti ini untuk bisa berbuat sesuatu yang lebih bermanfaat kepada daerah, jika memiliki keinginan untuk merantau ke daerah lain khususnya ibukota Jakarta sebaiknya punya tujuan yang tepat dan tidak asal ikut-ikutan, apabila tujuannya untuk menuntut ilmu sebaiknya fokus untuk menuntut ilmu, apabila tujuannya untuk memmperoleh pekerjaan sebaiknya fokus untuk mencari kerja, jangan mudah diajak untuk melakukan hal-hal diluar tujuan kita merantau apalagi melakukan tindakan kriminal untuk tujuan uang, satu tambahan saja jangan lupa jika di tanah rantau harus tetap ada dalam semangat hidup orang basudara” “Sagu Salempeng dipatah Dua”

email: andre@virtualtech.co.id  editor: admin

rental mobil ambon iklan300x50

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=1604

Posted by on Feb 23 2012. Filed under artikel anda, berita terbaru, Highlights. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented