|

O Pelauw

Catatan Rudi Fofid – Maluku Online

Seorang ibu yang tengah mengandung,  menggendong bayinya menengok bekas rumahnya di Pelauw -- foto rudi fofid --

Seorang ibu yang tengah mengandung, menggendong bayinya menengok bekas rumahnya di Pelauw -- foto rudi fofid --


PELAUW, sebuah negeri adat yang keras di Haruku. Saya jatuh cinta ketika tahun 1970-an, membaca feature wartawan Saifuddin Kadir tentang ritual yang disebutnya naik haji. Tulisan itu menuai protes tapi setidaknya memperkenalkan sesuatu yang beda dan mendalam di sana.

Ketika kuliah di Universitas Pattimura tahun 1983, saya berkenalan dengan sejumlah orang Pelauw dari marga Talaohu, Salampessy, Latuconsina. Bahkan orang-orang Ori, Kailolo, Ruhumoni, Kabauw, semuanya kami sebut secara umum sebagai orang Pelauw. Sebab mereka sering bersama-sama dan baku sayang, sementara kami tak bisa membedakan satu sama lain.

Dari berbagai cerita, orang Pelauw sebenarnya komunitas yang pernah tertinggal dari banyak segi terutama pendidikan dan ekonomi. Orang-orang tua Pelauw menyadari itu tapi mereka tidak pasrah. Anak-anak disekolahkan ke Ambon, Makassar hingga Tanah Jawa. Hasilnya mencengangkan sebab belakangan, muncullah berlapis-lapis orang Pelauw yang mengambil peran sebagai aktor utama di berbagai sendi kehidupan kemasyaratan.

Dalam kesan subjektif kami, Orang Pelauw itu religius, tradisional sekaligus kuat berjuang menjadi orang modern dan maju. Mereka ada di mana-mana, di berbagai jalur dan level, dari buruh pelabuhan, pimpinan ormas, dosen, pimpinan parpol, sampai gubernur, ketua DPRD, anggota DPR RI, jenderal, duta besar dan banyak jabatan penting.

Orang Pelauw, dan tentu saja komunitas yang lebih besar yakni Hatuhaha, telah lama berangkat dari ketertinggalan menuju kemajuan. Komunitas Pelauw di Jakarta, Makassar, Ambon dan kota lain, adalah sebuah komunitas yang progresif. Mereka tak hanya membawa Pelauw ke garda depan, melainkan juga membawa Maluku ke kancah terhormat. Akib Latuconsina, Ruswan Latuconsina, Saleh Latuconsina, Jusuf Latuconsina, Ishak Latuconsina, Effendy Latuconsina, Anna Latuconsina, Olivia Latuconsina, Sam Latuconsina, bagaikan sebuah parade pendekar dan srikandi. Itu baru dari trah Latuconsina, belum lagi dari marga atau matarumah lainnya.

Progres orang-orang Pelauw memang membanggakan dan patut jadi teladan. Tetapi di balik itu, muncul rasa cemburu politik dari pihak-pihak yang tidak sreg melihat kemajuan Pelauw. Ada orang menyangka atau menuduh, munculnya tokoh-tokoh Pelauw di papan atas politik dan pemerintahan, adalah dominasi kekuasaan melalui desain nepotisme. Padahal, jika dirunut ke belakang, tokoh-tokoh Pelauw muncul dengan cara dan gayanya sendiri-sendiri, dan saling memotivasi.

Pelauw, bagaimana pun sudah menjadi satu titik penting di Maluku. Sama dengan banyak negeri lain di pulau-pulau kecil yang melahirkan tokoh-tokoh besar. Sebab itu, Pelauw adalah sebuah aset dan kekayaan Maluku yang harus dijaga, dirawat dengan penuh kasih sayang.

Mengejutkan sekaligus mengenaskan mendengar kabar tentang asap kebakaran yang membumihanguskan Pelauw, pekan lalu. Hanya satu malam, 402 rumah terbakar, enam warga meninggal dunia dan 24 warga menderita luka. Akibatnya lagi, 938 kepala keluarga atau 4.406 jiwa menjadi pengungsi. Mereka mengungsi ke Ori, Kailolo, Ruhumoni, bahkan Kulur, Tulehu, Masohi, Liang dan Ambon. Para pengungsi memilih meninggalkan kampung, sebab rumah mereka sudah hancur. Sebagian lagi mengungsi karena takut, kendati rumah mereka masih utuh.

Apa sesungguhnya yang terjadi di Pelauw, harus ditelusuri akar masalah, demi solusi damai sekalipun pelik. Perbedaan pendapat antara kelompok mayoritas atau orang muka dan kelompok minoritas atau orang belakang, sesungguhnya sudah berlangsung sejak 1950-an. Sejauh itu, kekerasan tak meletus akibat perbedaan cara pandang. Kelompok mayoritas tetap melaksanakan ritual adat dan agama menurut keyakinannya, begitu pula kelompok minoritas. Mereka bahkan tetap berjamaah dalam masjid yang sama.

Bahwa Pelauw akhirnya membara, hal ini harus direspon secara sangat serius oleh orang Pelauw sendiri. Memang, asap tak lagi membumbung di Pelauw. Tapi abu dan puing masih terhampar di depan mata. Buah-buah kelapa dan pisang yang hangus di samping rumah, masih tergantung di tandannya yang kering. Dukacita masih menyesakkan dada. Perlu ada fase cooling down sejenak, untuk kemudian bisa duduk lagi dalam semangat persaudaraan Hatuhaha. Butuh mediasi yang luhur dari juru damai yang tangguh.

Hari ini, anak-anak SD sampai SMA di Pelauw sudah bisa masuk sekolah, setelah seminggu mereka hanya hidup di pengungsian. Ke sekolah tanpa seragam menjadi salah satu isyarat bahwa orang Pelauw telah kehilangan harta benda. Tapi anak-anak sudah bisa masuk sekolah, adalah petanda baik. Masa depan yang terang sungguh begitu penting ketimbang hari-hari konflik yang hanya melahirkan luka. Ayo Pelauw. Tahun ini, heroisme Maatenu harus tetap menghentak bumi.

rental mobil ambon iklan300x50

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=1537

Posted by on Feb 20 2012. Filed under artikel anda, berita terbaru, Highlights. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented