|

Oh, Jembatan Merah Putih!

Oleh Alfry Limba (Jurnalis Warga) Ambon 09 Maret 2012

Sketsa Jembatan Merah Putih Doc: Google

Sketsa Jembatan Merah Putih Doc: Google

Merah Putih merupakan nama dari jembatan yang rencananya akan  dibangun untuk menghubungkan desa Galala-Hative Kecil dengan Rumahtiga-Poka. Keberadaan jembatan ini merupakan buah harapan masyarakat Ambon terhadap persungutan mereka mengenai jalan pintas atau akses cepat dari bandara Pattimura ke pusat kota. Memang benar jika Pemerintah sudah menemukan solusi mengenai hal tersebut. sejak dulu, yaitu dengan mengadakan Kapal Ferry Poka-Galala, namun sepertinya  hal ini dinilai tidak efektif untuk mereka yang dalam keadaan terburu-buru atau membutuhkan waktu yang lebih singkat, dikarenakan Kapal Ferry harus berlabuh untuk memenuhi daya muatnya dengan penumpang, baik penumpang perseorangan maupun penumpang berkendara, inbiasani ya memakan waktu hingga 15 menit. Atas dasar masalah tersebut maka Pemerintah dan masyarakat Ambon berinisiatif untuk membuat sebuah jalur lintas baru yang lebih efektif, solusinya yaitu membangun sebuah jembatan penghubung dua jasirah ini (Leitimur dan Leihitu).

Sejak 26 Juli 2011 telah dimulai pembangunan jembatan Merah Putih yang direncanakan akan selesai 12 Oktober 2013 (810 hari) ditambah dengan masa pemeliharaan sekitar 730 hari, anggaran pembangunan jembatan bersumber dari APBN senilai Rp.249.614.400.000,00 ini dianggarkan pembangunannya dari tahun 2011 hingga 2013 dan bertindak sebagai kontraktor pelaksana yakni PT. Wijaya Karya (WiKa) Persero Tbk.

Jembatan Merah Putih merupakan salah satu dari perencanaan pembangunan PEMDA Maluku yang realisasiannya sedang berjalan hingga sekarang, memang benar jika jembatan ini akan memberikan banyak manfaat bagi masyarakat Ambon misalnya dalam memberikan akses pintas dari jasirah Leihitu ke Leitimur maupun sebaliknya, direncanakan dibawah jembatan ini akan dibuat sebuah taman yang indah sesuai dengan skema gambar yang dipamerkan PT. Wijaya Karya (WiKa) Persero Tbk yang dipampang di areal pagar pembatas wilayah kerja dengan pemukiman warga.

Namun dibalik semua itu, apabila jembatan ini selesai dibangun akan ada pihak yang merasa dirugikan, ada dua pihak sebenarnya yaitu pihak ASDP dalam hal ini Kapal Ferry yang selama ini beroperasi di daerah Poka-Galala kemungkinan besar mengalami kemunduran, namun itu bukan masalah yangberarti karena ASDP adalah milik Pemerintah dan Pemerintah bisa memutar otak untuk mencari solusi lain dengan mematenkan rute perjalanan semua Kapal Ferry seperti dari Galala ke Namlea (seperti yang dilakukan saat ini), atau ditambah dengan rute-rute baru lainnya.

Pihak kedua yang merasakan dampak negatif dari pembangunan jembatan Merah Putih adalah para pendayung perahu yang setiap harinya melakukan pekerjaan ini untuk menghidupi diri mereka dan keluarganya, pengguna perahu yang biasanya menggunakan jasa  pendayung perahu Poka-Galala akan lebih memilih jembatan Merah Putih sebagai  jalur  penyebrangan karena mereka lebih mengutamakan keselamatan dan mempersingkat waktu. Dari alasan inilah maka bukan tidak mungkin jika akan muncul penganggur-penganggur baru karena pekerjaan sebagai pendayung perahu sudah tidak bisa lagi diandalkan.

Sangat miris memang jika melihat keadaan seperti ini, dimana Pemerintah yang seharusnya juga berperan dalam menciptakan lapangan pekerjaan justru menghilangkan lapangan pekerjaan. Memang benar jika akan ada kompensasi yang diberikan PEMDA untuk para pendayung perahu, namun pertanyaannya adalah; akankah kompensasi tersebut bisa menjamin jalan panjang kehidupan mereka? Pasti akan ada komentar bahwa para pendayung perahu tersebut bisa membuka jenis usaha  baru,  menurut para pendayung perahu, mereka rata-rata tidak mempunyai skill dan kemampuan sebagai seorang pengusaha, dan keahlian mereka hanyalah mendayung, kebanyakan diantaranya hanya lulusan SMA, dan terbatas dalam berinvoasi.

Ada  jalan keluar yang efektif agar salah satu peninggalan budaya  dari nenek moyang kita ini tidak luntur, tentunya harus bisa menguntungkan banyak pihak, PEMDA, masyarakat umum, dan pendayung perahu, jalan keluar tersebut adalah dengan menjadikan perahu di daerah Rumahtiga, Poka, dan Galala untuk fungsi kepariwisataan, perahu-perahu yang ada dapat diubah fungsinya sebagai media wisata bahari di daerah-daerah yang memiliki spot-spot wisata unggulan seperti teluk Ambon, tanjung Marthafons, dan pantai Rumahtiga.

Apabila solusi ini benar-benar diimplementasikan tentu tidak akan ada penganguran akibat dari pembangunan jembatan Merah Putih, karena semua pihak bisa diuntungkan, kami sebagai anak-anak tanah ini ingin PEMDA Maluku bisa melakukan yang terbaik untuk kesejahteraan bersama. Terima kasih atas perhatiannya!

Facebook: Alfry Limba

Blog http://alfrylimba.blogspot.com

Editor Admin

Email: admin@malukuonline.co.id

rental mobil ambon iklan300x50

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=1978

Posted by on Mar 9 2012. Filed under artikel anda, berita terbaru, Highlights, Kota Ambon, layanan publik, Maluku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented