|

Max Aponno: Penganiaya Wartawan Kompas.Com Harus Dihukum Berat

Laporan Ronal Regan – Ambon

 MALUKU ONLINE, 5 Januari 2013

 Pemukulan, pengancaman, perampasan kamera dan penghapusan gambar oleh aparat keamanan kepada wartawan kompas.com Rahman Patty saat malam pergantian tahun, mendapat perhatian mantan ketua PWI Maluku Max Aponno.  Aponno sangat menyayangkan aksi kekerasan yang dilakukan aparat kepada wartawan.

“Tindakan yang dilakukan aparat keamanan, khususnya dari oknum TNI  itu suatu tindakan atau perbuatan yang salah besar.  Oknum  TNI itu tidak paham dan tidak mengerti tentang tugas-tugas seorang jurnalis  yang dilindungi UU No 40 tahun 1999 tentang Pers,”  ujar Aponno di Kantor Redaksi Metro Maluku, siang tadi.

Menurut Aponno,  UU  menjamin seorang jurnalis untuk melakukan tugas-tugas jurnalistik secara bebas.  Tapi karena oknum TNI itu tidak paham,  makanya mereka melakukan tindakan-tindakan yang sebenarnya konyol. Atas dasar itu, Aponno berpendapat,  para pelaku kekerasan terhadap wartawan Rahman Patty harus diberi sanksi tegas dari atasannya.

“Kalau dia sebagai seorang aparat keamanan dilindungi oleh UU, maka jurnalis juga punya hak dan kebebasan yang sama, yang dilindungi UU. Jadi saya sebagai seorang wartawan senior dan mantan Ketua PWI Maluku menyesalkan tindakan demikian dan yang bersangkutan harus diberikan sanksi tegas atas tindakannya yang buruk,”  tegasnya.

Aponno menyatakan, semestinya aparat keamanan memberikan perlindungan kepada wartawan dan bukan sebaliknya melakukan pelanggaran dengan tindakan-tindakan kriminal.   Ditambahkan, aparat itu musti sadar, tanpa wartawan maka  dunia ini akan gelap. Wartawan punya  hak dan kewajiban memberikan laporan kepada masyarakat tentang apa yang terjadi di tengah-tengah masyarakat.

“Nah ini adalah tugas wartawan dan oknum aparat itu harusnya melindungi wartawan dalam kaitan dengan tugas-tugas jurnalis. Jadi dia tidak boleh berbuat begitu, apalagi sampai sudah mengambil kamera dan menghapus gambar seorang wartawan yang sedang menjalankan tugas. Itu tindakan goblok.   dia tidak paham, dia sok berkuasa padahal ini bukan zamannya lagi,” paparnya lagi.

Aponno  yang juga sebagai wartawan senior dan banyak pengalaman dalam dunia jurnalistik, memberikan saran kepada wartawan junior untuk pandai-pandai membawa diri, demi menghindari perlakuan buruk dari orang-orang yang tidak mengerti dan sok berkuasa dengan cara anarkis.

“Pandai-pandailah membawa diri dalam peliputan.  Perkenalkan dirinya dengan low profile. Misalnya, katakan kepada anggota keamanan, maaf pak kita ini sama-sama melaksanakan tugas. Bapak melaksanakan tugas sebagai keamanan dan saya menjalankan tugas sebagai seorang wartawan. Jadi kita punya peran dan fungsi masing-masing,  tidak perlu melakukan tindakan yang merugikan. Himbaulah kepada dia seperti itu karena tentara atau polisi, banyak yang tidak tahu fungsi seorang wartawan,” ujarnya santai.

Peristiwa pemukulan wartawan Rahman Patty  dicatat media sebagai kasus kekerasan pertama yang melanda wartawan di Maluku bahkan Indonesia.  Menurut cerita Rahman Patty,  peristiwa kekerasan terjadi Selasa (1/1)  di Jalan Pattimura, depan Gereja Maranatha Ambon.

“Saat itu saya bersama beberapa rekan wartawan  di antaranya Moluka TV,  moluken dan berita Maluku.com sedang meliput suasana malam tahun baru di kawasan Pattimura Park. Tiba-tiba warga panik karena terjadi aksi pengejaran seorang warga oleh sejumlah anggota TNI,” kata Rahman kepada wartawan di Ambon.

Saat mengambil gambar, lanjutnya, dia dimarahi dan disuruh menghapus gambar oleh oknum anggota TNI  dengan nada kasar dan ancaman. Kata-kata kasar yang dikeluarkan seperti, “hapus gambar sekarang, jangan sampai saya bunuh kau.”

Setelah itu saya hapus gambarnya tapi tiba-tiba muncul beberapa oknum anggota TNI dengan emosi  dan memukul saya, salah satu di antaranya merampas kamera saya dan  menjatuhkan ke aspal, tak lama kemudian datang lagi oknum anggota TNI yang lain menendang saya di bagian perut,” kata Rahman.

Rahman kemudian melaporkan kasus ini ke Pomdam.   Komandan Korem 151 Binaiya Kolonel infanteri Asep Kurnaidi menerima Rahman dan meminta keterangan.  Sampai kemarin, baru satu tersangka ditahan yakni Serka Abdullah, Serka Abdullah, anggota Detasemen Kavaleri. (Editor rudifofid/rudifofid@gmail.com)

 

rental mobil ambon iklan300x50

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=3133

Posted by on Jan 5 2013. Filed under berita terbaru, Highlights. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/virtualt/public_html/malukuonline.co.id/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 21
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented