|

Getar Puisi 439 Tahun Di Titik Nol Ambon

Lima di antara para penyair yang tampil dalam Malam Kapata 439 Tahun Ambon yakni Muakrim Soulisa, Khazan Borut, Theoresia Rumthe, Alisya Pattipeilohy dan Calvin Papilaya (foto ist)

Lima di antara para penyair yang tampil di malam kapata Muakrim Soulisa, Khazan Borut, Theoresia Rumthe, Alisya Pattipeilohy dan Calvin Papilaya (foto ist)

Laporan Milton Lesnussa-Ambon

MALUKU ONLINE, 25 Maret 2014

Puisi-puisi bergetar di Kafe Tampayang, persis di  Titik Nol Kota Ambon Manise.  Puluhan seniman berkumpul merayakan hari jadi Kota Ambon ke-439 yang diyakini jatuh hari ini. Para penyair berkolaborasi dengan musisi-musisi muda progresif.

Menurut sejarah, pada 25 Maret 1575 bertepatan dengan Pesta Anunsisi yakni Maria Diberi Kabar Oleh Malaikat Gabriel, pembangunan Benteng Nossa Senhora Da Anunciada dibangun sebagai cikal bakal kota.  Fakta inilah yang ingin ditegaskan para seniman, sebagai bentuk koreksi terhadap hari jadi 7 September, yang dinilai anomali.

Malam Kapata Hari Jadi Ambon ini diselenggarakan Bengkel Sastra Maluku (BSM) dengan dukungan komunitas seni kreatif.  Koordinator BSM Revelino Berry dan sekretarisnya Almascatie, sama-sama hadir lebih awal dan menyambut satu demi satu penyair dan musisi yang datang ke arena pentas puisi.

“Selamat merayakan ulang tahun Kota Ambon dengan puisi dan musik.  Inilah ulang tahun yang sebenarnya,” ujar Berry ketika membuka Malam Kapata.

Kelompok musisi Purecaustic membuka pementasan dengan suguhan musik.  Mereka adalah  Mika Persunay (cajoon), Rio Marthen (guitar) dan Erick Latuheru (vocal). Lagu Waktu di Pangku Mama dan lagu Beta Berlayar Jauh, mengalir dari vokal Erick Latuheru.

Seorang penyair dari Kota Tual yakni Khazan Borut mengawali pembacaan puisi.  Dia membaca puisi karangannya berjudul Tentang Aku dan Kelahiranku, Evav.  

“Saya suka menulis puisi, tapi jarang membacakannya,” ujar pemuda bergelar doktor di bidang hukum kesehatan itu.

Setelah Khazan, selanjutnya Chalvin Papilaya dan Isye Pattipeilohy tampil dengan puisi berjudul Perang.  Keduanya adalah penyair dan pemain teater dari Sanggar Batukarang.

Gracio Imanuel Pelmelay yang biasanya menjadi MC, berdiri di belakang kamera atau mengajar di kelas bahasa, kali ini tampil di pentas sastra.  Gracio membaca puisinya berjudul Kepada Jangkar.

Seniman pantonim dan pemain biola Maestro Dahoklory membaca puisi Di Selatan Sana, disusul Berry Revelino dengan puisi Tanpa Demi Apapun.  Sedangkan Putri Pariwisata Maluku 2013 Nielma Pesurnay tak mau ketinggalan.  Dia membaca puisinya bertajuk Bebaslah, Bermimpilah.

Setelah Purecoustic featuring Dalenz mempersembahkan Three Little Bird (Bob Marley), Azis Tunny lantas memaparkan materi singkat bertajuk Anomali Hari Lahir Kota Ambon.

“Beta orang Ambon, KTP Ambon, Katong samua orang ambon, katong berhak bicara soal Ambon. Apalagi ini tentang sejarah. Mari katong rayakan ulang tahun Kota Ambon tanpa perayaan meriah, tanpa pesta kembang api, tanpa pidato pejabat,” cetus Azis Tunny yang membacakan puisinya 439 Lalu.

Malam Kapata makin meriah, saat penyair cilik Alisya Pattipeilohy hadir di tengah pentas.  Ia membaca puisi Doa Untuk Tanah Yang Manis (Rudi Fofid).  Pelajar kelas 7 SMP 10 Kayu Putih itu tampil memukau.

“Malam ini mengirimkan Martha Tiahahu pada Alisia, suaranya seharum aroma gaharu, mengalunkan kapata. Menembus jantung hati,” begitu respon Sekretaris BSM Almascatie di akun twitter.

Penyair Wirol Haurissa membaca puisinya  Hari di Amboina, disusul Vitha Wakano dengan puisi  berjudul Untuk Bersuara.  Ada Christ dengan Kegelapan Menyelimuti Sang Penguasa, serta Dalenz dengan Puisi.

Theoresia Rumthe alias @perempuansore membaca puisi berjudul Acang Obet Sejarah Kenangan (Rudi Fofid) disusul Muakrim M. Noer Soulissa dengan puisi Malu-ku.  Penampilan Theoresia  dan Muakrim menjadi puisi pamungkas malam kapata.

Getar puisi diimbangi dengan suguhan musik yang juga menawan. David Rampisela diundang Purecoustic membawakan lagu “Untukku” (Chrisye).  Ternyata, David mengawalinya dengan puisinya Pada Suatu Hari.
David, Willy Waas dan Erick lantas berkolaborasi dalam lagu Enggo Lari diiringi Purecoustic. Berry sebagai rapper MHC lantas beraksi free style.  Jadilah kolaborasi yang indah, puisi-puisi dan lagu.

kolaborasi

Purecaustic, kolaborasi para musisi Mikha Pesurnay, David Rampisela dan Ryo Marthen mengiringi vokalis Eric Latuheru di malam kapata. (foto ryando)

TERHIBUR

Muakrim Soulissa, penyair dari Leihitu, Maluku Tengah, mengaku gembira bisa ikut membaca puisi di malam ini.  Dia menyebutkan, sebenarnya banyak orang muda berminat puisi namun mereka tidak terwadahi secara baik.  Dia berharap, dengan makin berkembangnya bengkel sastra di mana-mana, dunia makin mengenal Maluku bukan hanya karena musik tetapi juga sastra.

Sementara Theoresia yang masih dalam suasana berkabung atas kepergian ibundanya, mengaku terhibur juga berada di tengah seniman Ambon dalam perayaan ini.

“Rasa kehilangan, ya pasti.  Butuh waktu untuk itu.  Tapi dengan acara ini, saya terhibur,” ujarnya.

Azis Tunny, Berry, Almascatie, dan para penyair lainnya bertekad merayakan hari jadi Ambon setiap tahun pada 25 Maret.  Mereka ingin sejarah diluruskan, kendati butuh waktu dan perjuangan.  (editor rudifofid@gmail)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=4667

Posted by on Mar 25 2014. Filed under berita terbaru, budaya, pemuda. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented