|

Irama Lenso Bung Karno

 

Sampul piringan hitam berisi lagu karangan Presiden Soekarno (wikipedia)

Sampul piringan hitam berisi lagu karangan Presiden Soekarno (wikipedia)

Catatan Rudi Fofid – Jakarta

MALUKU ONLINE, 19 April 2014

Pintu rumah diketuk sangat keras.  Ibuku sedang duduk di depan mesin jahitnya di ruang tengah.  Belum sempat ia berdiri, empat anggota polisi sudah masuk sampai  ke ruang tengah.

“Mana Edy?” Satu anggota polisi yang berjalan paling depan bertanya dengan sedikit mendesak.

Belum sempat ibuku menjawab, pintu kamar terkuak.  Edy berdiri di depan pintu.  Langsung saja empat orang polisi itu berebut menghantamnya dengan pukulan bertubi-tubi.  Sebuah pukulan keras tepat kena di tengkuk.  Edy tidak berteriak atau melakukan perlawanan, sampai diborgol dan dibawa pergi.

“Mengapa pukul dia? Dia salah apa?”Ibuku bertanya kepada polisi-polisi itu.

“Dia ini PKI,” katanya lalu pergi bersama Edy dengan tangan diborgol.  Aku masih menyaksikan pukulan yang diterima Edy di sepanjang jalan.

Paparan di atas bukan sebuah awal cerita pendek.  Ini kejadian sesungguhnya tahun 1969 di rumahku yang terletak di Watdek, sebuah dusun di tepi Selat Rosenberg, Kei Kecil, Maluku Tenggara.

Edy bernama lengkap Edmundus Fofid.  Dia adalah kakak sepupu yang tinggal bersama kami.  Selesai kuliah di Makassar dan pulang ke Kei dengan gelar Bachelor of Arts (BA),  dia bekerja sebagai pegawai Kantor Perdagangan Maluku Tenggara.

Meskipun orang tua kandungnya masih hidup, Edy tinggal bersama kami dan sudah dianggap sebagai anak paling sulung.  Ayahku Paul Fofid sangat menyayangi Edy sebab orangnya sangat disiplin.

Ayah sedang berada di Irian Barat ketika Edy ditangkap polisi karena tuduhan PKI.  Bupati waktu itu menuduh Edy,  jaksa Fangohoy dan rekan lain sebagai aktivis gerakan yang sudah dilarang beberapa tahun lalu pasca Gerakan 30 September 1965 (G30S/PKI).

Kalau ayah ke Irian Barat, kami pasti senang. Ayah melarang keras kami mandi di laut, jadi kalau ia pergi, berpestalah kami di laut.  Lantas, kalau ayah kembali, ia pasti membawa barang-barang bagus. Misalnya satu rol kain yang nanti dijahit ibu menjadi baju.  Kami sekeluarga akan memakai baju yang sama ke gereja.

Ada juga radio transistor empat band, sebuah alat pemutar piringan hitam pick up dan tentu piringan hitam aneka lagu.  Album yang sempat aku ingat yakni lagu-lagu Hawaii, Beatles, Patty Bersaudara, Band Panca Nada, Koes Plus, Bing Slamet, dan lain-lain yang tidak bisa kuingat lagi.

Ayahku suka duet bersuara emas Patty Bersaudara, Silvy dan Nina.  Kakak beradik ini menyanyikan lagu  Waarom heb jij mij laten staan. Ibuku sering memprotes, mengapa menyanyi lagu sedih itu untuk anak-anak.  Kalau sudah begitu, ia lantas mengganti lagu riang dari Albun Bing Slamet.

Di album Bing Slamet, ada tiga lagu yang kuingat yakni Soleram, Genjer-Genjer dan Bersuka Ria.  Ayah suka mendengar lagu-lagu itu, dan aku jadi hafal lagu-lagu tersebut.

Sampai sekarang, aku masih ingat suara Bing Slamet yang saat itu, kukira suara Bung Karno.  Lirik lagu lumayan panjang tapi aku menghafal bagian awal saja.

Mari kita bergembira sukaria bersama
Hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
Lenyapkan duka lara bergembira semua
Lalalaalaa laaaa la mari bersuka ria

Siapa bilang bapak dari Blitar

Bapak kita dari Prambanan
Siapa bilang rakyat kita lapar
Indonesia banyak makanan

Empat hari setelah Kakak Edy ditangkap, ada empat polisi datang lagi di rumah.  Ayah belum pulang dari Irian Barat. Kali ini mereka minta izin baik-baik mau memeriksa sesuatu dari lemari.

Kakak Edy punya sebuah lemari buku berisi buku-buku berbahasa Inggris dan Belanda.   Kapita Selekta Hukum Dagang, kamus-kamus terbitan luar, dan banyak lagi yang tidak boleh kami sentuh, kecuali cerita Mahabrata-Ramayana  dan Kamus Bahasa Indonesia WJS Purwadarminta.

Setelah mengacak-acak buku dan syukur tak satupun buku diambil.  Mereka pindah ke rak yang berisi semua koleksi piringan hitam kecil, sedang dan besar.

“Nah, ini dia,” kata salah satu polisi.  Tiga temannya mendekat.  Mereka mengeluarkan piringan hitam dari sampulnya  Dengan dua kali hentakan, piringan hitam di tangan polisi itu patah jadi empat, lalu dibuang ke lantai.

“Album ini sudah dilarang,” ujar polisi itu, lalu mereka pergi.

Belakangan, bertahun-tahun barulah aku tahu tentang lagu Genjer-Genjer distigmakan sebagai lagu PKI dan orang takut menyanyikannya, mirip lagu Hena Masa Waya di Maluku.

Aku mengambil empat keping plat itu dan menyusunnya di lantai seperti bermain puzzle.  Kecewa sekali karena  lagu “Indonesia banyak makanan” sudah patah menjadi empat keping.

Ayahku pulang dari Irian Barat dan langsung marah besar kepada bupati dan polisi.  Dia merasa terhina sekali sebab sebagai tentara KNIL yang bergabung ke TNI, seorang anaknya  di dalam rumahnya dituduh PKI.

Proses hukum  Edy dkk hanya sampai di BAP saja dan tidak ada bukti keterlibatan di PKI, sehingga dibebaskan begitu saja.  Edy kecewa sekali karena dia pergi merantau ke Makassar untuk sekolah, tapi begitu kembali ke kampung halaman malah dituduh PKI.

Edy tidak punya nafsu lagi bekerja di bawah bupati yang telah menuduhnya PKI.  Sebab itu dia memilih merantau, walau tetap sebagai pegawai Departemen Perdagangan.

Aku tidak ingat tahun-tahunnya secara pasti namun Edy sempat ke Jawa Timur, lalu menikah dengan Purwati, gadis Kediri. Tahun 1973-1974 ia sempat kembali ke Ambon.  Edy menyelesaikan strata satu dan setelah pensiun di  Kediri masih sempat mengabdi sebagai dosen di Universitas Pawyatan Daha Kediri.

Aku  beberapa kali bertemu Edy di rumahnya di Kediri dengan istrinya dan kedua anak Emil dan Izak.  Pernah kami bertemu di Ambon dan Ngilngof.  Edy pernah menantangku  ketika dia tahu profesiku wartawan.

‘Aku  tahu persis siapa-siapa yang terlibat PKI.  Ketika peristiwa G30S/PKI meletus, mereka membentuk komposisi pemerintahan darurat/peralihan di Maluku.  Berani tulis?” tantangnya.

“Berani! Yang penting, berikan data dan bersedia jadi saksi, akan kutulis!”  jawabku

“Sudahlah.  Itu masa lalu.  Ini menyangkut orang punya hidup juga.  Toh, saudara-saudara kita sendiri.  Aku hanya uji nyalimu saja. Tapi, kau musti ajar orang Maluku melalui tulisan-tulisanmu, supaya jangan satu bikin susah satu.  Itu penyakit yang harus diberantas.  Kalau tidak, daerah lain maju dan kita di Maluku sibuk dengan saling makan,” pesannya.

Dua pekan lalu, kakakku tercinta Edy menghembuskan nafas terakhir di Kediri. Tentu aku merasa kehilangan.  Saat terakhir berjumpa beberapa tahun lalu, Edy punya rencana kembali ke Ngilngof, kampung halaman kami yang indah.

IRAMA LENSO

Kenangan bersama Edy membuatku teringat kembali pada peristiwa penangkapan dan pengrusakan piringan hitam itu.  Ingin sekali mendengar lagu yang dulu dinyanyikan Bing Slamet.  Iseng-iseng aku search di google.  Hatiku girang karena ternyata lirik lagunya ada, suara Bing Slamet juga ada di Youtube.  Bing Slamet bernyanyi bersama penyanyi kawakan lainnya Titiek Puspa, Rita Zahara dan Nien Lesmana. Dari YouTube juga, ketahuan bahwa penulis lagu tersebut adalah Presiden Soekarno, sang insenyur yang seniman.

Menurut keterangan di Youtube, lagu ini dipopulerkan Bing Slamet di TVRI antara tahun 1962-1963 dan menjadi lagu terkenal.  Pantas saja bisa sampai di Tanah Kei  Lagu Bung Karno itu direkam dengan iringan music Orkes Irama di bawah pimpinan Jack Lesmana, dengan produser The Indonesian Music Company Irama Ltd danRecording Supervisor Sujoso Karsono. Pada Youtube bisa diakses di link   http://www.youtube.com/watch?v=yhdZdHvD7Rc

Dari Wikipedia, keterangan lumayan lengkap, terutama dengan cover yang menuliskan irama lenso dan ada tiga lagu Maluku. Ada restu Bung Karno untuk diedarkan, bertanggal 14 April 1965. Inilah petikan selengkapnya dari Wikipedia:

Mari Bersuka Ria dengan Irama Lenso adalah album berisi sejumlah lagu yang dinyanyikan oleh Bing Slamet, Rita Zahara, Titiek Puspa, dan Nien Lesmana, diiringi orkes Irama pimpinan Jack Lesmana. Diedarkan pada tahun 1965 oleh The Indonesian Music Company Irama LTD. Dalam covernya tertulis “dipersembahkan oleh para seniman Indonesia dan karyawan IRAMA bertalian dengan DASA-WARSA KONFERENSI AFRIKA-ASIA”. Dibagian lain juga tertulis “Saja restui. Setudju diedarkan,Soekarno 14/4 ’65″.

DAFTAR LAGU

Bersukaria (ciptaan Bung Karno)
Euis (Rita Zahara – Bing Slamet)
Bengawan Solo (Titiek Puspa)
Malam Bainai (Rita Zahara)
Gendjer-Gendjer (Bing Slamet)
Soleram
Burung Kakatua
Gelang Sipaku Gelang

Inilah lirik lagu itu.

BERSUKA RIA

mari kita bergembira sukaria bersama
hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
lenyapkan duka lara bergembira semua
lalalaalaa laaaa la mari bersuka ria

siapa bilang bapak dari blitar
bapak kita dari prambanan
siapa bilang rakyat kita lapar
indonesia banyak makanan

mari kita bergembira sukaria bersama
hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
lenyapkan duka lara bergembira semua
lalalaa lalala lalaaaala mari bersuka ria

tukang sayur nama si salim
menjualnya ke jalan lembang
indonesia anti nekolim
para seniman turut berjuang

mari kita bergembira suka ria bersama
hilangkan sedih dan duka mari nyanyi bersama
lenyapkan duka lara bergembira semua
lalalalala lalaaala mari bersuka ria

(malukuonline/editor rudifofid@gmail.com)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=4793

Posted by on Apr 19 2014. Filed under artikeL, berita terbaru, budaya, musik. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented