|

Zulfirman Rahyantel, Duta Maluku Ke Indonesian Youth Conference

Zulfirman Rahyantel

Zulfirman Rahyantel

Laporan Rudi Fofid-Ambon

MALUKU  ONLINE, 6 Agustus 2014

Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Pattimura Ambon Zulfirman Rahyantel terpilih sebagai Duta Maluku.  Ia akan mengikuti Forum Indonesian Youth Conference (IYC) di Jakarta, 4-8 November 2014.

Zulfirman terpilih di antara puluhan pemuda Maluku lainnya yang mengikuti proses seleksi.  Kepastian sebagai duta Maluku diperoleh dari panitia yang menghubunginya  1 Agustus lalu.

“Kami dari IYC dengan senang hati memberitahukan bahwa kamu terpilih sebagai Duta Forum IYC 2014 mewakili Provinsi Maluku,” begitulah bunyi SMS yang dikirim panitia pelaksana dari Jakarta.

Untuk terpilih sebagai Duta Maluku, Zulfirman harus menempuh proses seleksi selama sebulan.  Mulai dari seleksi administrasi,  wawancara tertulis, penulisan artikel dan sebagainya.  Paper yang ditulisnya berjudul Sustaining Peace From Campus To Community, Meretas Segregasi Menuju Maluku Damai.

Sebagai Duta Maluku, Zulfirman akan mengikuti serangkaian kegiatan seminar, lokakarya, festival dan berbagai aktivitas bersama 33 duta lainnya dari seluruh Indonesia.

Bersama mahasiswa lintas iman di Kampus UGM Yogyakarta (foto dokpri)

Bersama mahasiswa lintas iman di Kampus UGM Yogyakarta (foto dokpri)

MENGGAGAS PERDAMAIAN

Zulfirman saat ini masih tercatat sebagai mahasiswa semester VII di Program Studi Kehutanan  Fakultas Pertanian Universitas Pattimura.  Selain aktif  sebagai pengurus Silva Indonesia Pengurus Cabang Universitas Pattimura,  dia juga aktif dalam komunitas mahasiswa yang bergerak memperkuat proses-proses perdamaian di dalam kampus.

Melalui program Non Violence Study Circle (NVSC) yang didukung Inspiring Development (Indev) dan Lembaga Pengabdian Kepada Masyarakat (LPKM) Universitas Pattimura, Zulfirman dan rekan-rekannya yang dipimpin Firdaus Arey, mereka menggalang pertemuan,  diskusi  dan pelatihan secara teratur antara mahasiswa Islam dan Kristen.

Konflik Maluku tahun 1999 sempat menimbulkan luka dan trauma bagi kaum muda.  Sebab itu, melalui kegiatan tersebut, Zulfirman dkk terus memperkuat perdamaian dan persaudaraan di antara sesama mahasiswa.

“Kami punya visi bersama yakni melestarikan perdamaian dari kampus ke komunitas.   Salah satu aksi kami adalah Save Ambon Bay for marine tourism and sustainability fisheries, bersama masyarakat,” terangnya kepada Maluku Online di Kampus Universitas Pattimura, siang tadi.

Sambil membersihkan sampah di Teluk Ambon, sekaligus membuka ruang perjumpaan mahasiswa Islam-Kristen di Ambon (foto firdaus arey)

Sambil membersihkan sampah di Teluk Ambon, sekaligus membuka ruang perjumpaan mahasiswa Islam-Kristen di Ambon (foto firdaus arey)

Aktivitas perdamaian di NVSC ini membuat Zulfirman diundang mengikuti Interfaith Youth  Piligrimage Indonesia, November 2013.  Dalam kegiatan yang digagas Indonesia Consorium Relligious Study (ICRS)  Universitas Gajah Mada, para peserta melakukan studi perdamaian di lima kota yakni Yogyakarta, Magelang, Salatiga, Solo dan Surakarta.

“Kami masuk pesantren dan seminari dan rumah ibadah semua agama,” terangnya.

Saat ini, Zulfirman sedang mempersiapkan diri mengikuti National Interfaith Student Peace Camp dan Youth Interfaith Peace Camp Conference di Yogyakarta, 14-24 Agustus.  Melalui kegiatan ini, dirinya berharap dapat membangun jaringan yang luas untuk mengadvokasi perdamaian.

Meskipun sibuk dengan beragam aktivitas, Zulfirman tidak kehilangan fokus pada studinya.  Hal ini bisa dilihat dari indeks prestasi kumulatifnya yang tidak pernah turun di bawah 3,5.

“Kuncinya, ya bagi-bagi waktu.  Semuanya jalan sekaligus, dan pandai membuat prioritas,”  ujarnya soal keseimbangan studi dan aktivitas kemahasiswaan.

Dunia aktivis memang bukan hal baru bagi Zulfirman.  Sejak masih pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Geser Kabupaten Seram Bagian Timur (SBT) tahun 2010,  dirinya sudah menonjol.  Tidak heran, dirinya sempat dikirim bersama dua rekannya dari SMA Negeri 2 Ambon Jane dan SMA Negeri 11 Ambon Rofida Oppier sebagai Duta Indonesia ke Jenesys Program di Tokyo dan Hokaido, Jepang.

Zulfirman (kanan) dan Firdaus Arey, seorang saudara dan sahabat dalam berbagai aktivitas studi, lingkunan, sosial dan perdamaian (foto supriyadi kilbaren)

Zulfirman (kanan) dan Firdaus Arey, seorang saudara dan sahabat dalam berbagai aktivitas studi, lingkunan, sosial dan perdamaian (foto supriyadi kilbaren)

Selama sebulan di Jepang, Zulfirman mempelajari budaya Jepang yang antara lain menonjol dalam nilai-nilai disiplin dan kejujuran.  Pengalaman itu, katanya, sangat berpengaruh bagi dirinya, seperti disiplin membagi waktu studi dan dunia aktivis.

Meskipun punya pengalaman nasional dan internasional, Zulfirman tetap melakukan kegiatan yang bagi sebagian orang boleh dibilang remeh.  Di kamar kos-kosan, ia aktif mendorong kultur akademis yang dirasakan makin kendor di kalangan mahasiswa.  Misalnya, diskusi-diskusi kelompok membahas berbagai isu.  Sedangkan di kampus, bersama rekannya Firdaus Arey, ia pun menggagas komunitas bawah pohon yaitu belajar dan berdiskusi di bawah rindang pohon yang tumbuh di halaman kampus.

“Ini sebuah kelompok jalan-jalan.  Kami bergerak di bidang pendidikan dan lingkungan.   Kami mendistribusi buku-buku ke sekolah di pelosok Maluku,” urainya.

Menjadi aktivis kampus dengan segudang kesibukan, Zulfirman punya obsesi kelak setelah meraih gelar sarjana kehutanan, dia ingin terus menimba ilmu ke jenjang yang lebih tinggi.

“Saya ingin jadi dosen.  Sebab itu saya ingin kuliah di salah satu perguruan tinggi terbaik di luar negeri,”  kata Zulfirman. (Maluku Online)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=5451

Posted by on Aug 6 2014. Filed under artikeL, berita terbaru, pemuda, pendidikan. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented