|

Palahi Halawang, Air Mata Di Air Terjun Waitomu

Keenam anggota baru Palahi Halawang dan suasana pasca pembaitan di lokasi Air Terjun Waitomu - Hila, di utara Pulau Ambon (foto muakrim soulisa)

Suasana pasca pembaitan di lokasi Air Terjun Waitomu – Hila, di utara Pulau Ambon (foto muakrim soulisa)

Catatan Rudi Fofid-Hila

MALUKU ONLINE, 11 Januari 2015

Hari masih subuh. Udara terasa dingin namun enam orang muda rela menceburkan diri ke dalam kolam. Mereka melintas di bawah guyuran air terjun setinggi 25 meter. Di seberang sana, ada juga belasan orang muda menunggu, dalam sebentuk gua alam yang menyingkap sedikit perut bumi.

“Beta cinta Palahi. Beta cinta Palahi,” teriak keenam orang muda memecah subuh itu, walau tubuh mereka terendam dan hanya kepala terlihat di muka air.

Setelah melewati beberapa ritual yang cukup berat, dalam keadaan basah kuyup dan menggigil, satu persatu keenam orang muda itu naik ke atas gua, di level tempat belasan orang muda lainnya berdiri menjadi saksi.

Suasana jadi hening. Hanya air terjun yang terus riuh mengiring detik-detik pembaitan. Ketua Umum Palahi Halawang Muhammad Syarban Jangky Mony memasang slayer organisasi ke leher Ali Ridho Bugis,      sang komandan regu Angkatan Ketiga. Pemasangan slayer selanjutnya dilakukan Sekretaris Umum Saman Lating dan pengurus lain kepada lima anggota baru lainnya. Ritual itu ditandai peluk-haru, jabat erat dan air mata bahagia.

“Selamat datang dan bergabung dengan Palahi, ” ujar Mony saat menyalami keenam orang muda tersebut.

Begitulah suasana penerimaan anggota baru organisasi Pecinta Alam Hila (Palahi) Halawang di kawasan Air Terjun Waitomu, Negeri Hila, Utara Pulau Ambon, Minggu (11/1).

Enam orang muda itu yakni Ali Ridha Bugis, Syahman Lain, Akbar Ollong, Ramadhan Amri Tuharea, Ruslan Abdulgani Rubessy dan satu-satunya perempuan Sukaina Pailokol, tak kuasa menahan air mata. Mereka larut dalam haru dan bahagia sebab bisa bergabung dengan organisasi pecinta alam di kampungnya.  Apalagi mereka tercatat sebagai anggota Palahi, rekrutmen angkatan ketiga.

“Saya terharu bisa melewati proses berat dan akhirnya bisa diterima sebagai anggota Palahi,” ujar Syahman Lain, satu dari enam anggota baru tersebut.

Suasana pembaitan anggota baru Palahi Halawang di lokasi Air Terjun Waitomu, Negeri Hila (kiri) dan enam anggota baru pasca pembaitan (foto muakrim soulisa)

Enam anggota baru Palahi Halawang pasca pembaitan (foto muakrim soulisa)

DARI KAMPUNG

Di Maluku terdapat puluhan organisasi pecinta alam. Mereka tersebar di dalam maupun luar kampus dan sekolah. Palahi Halawang justru didirikan di sebuah kampung, tahun 2011, berbeda dengan banyak organisasi dan kelompok pecinta alam yang terpusat di kota. Halawang sendiri berasal dari Bahasa Hila yang berarti emas.

Kehadiran Palahi Halawang di Negeri Hila dan mendapat dukungan resmi Pemerintah Negeri Hila. Walau di kampung, Palahi Halawang tidak lantas menjadi organisasi lokal. Mereka tetap terikat pada Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, dan melakukan pembinaan kader sebagaimana layaknya organisasi sejenis di Indonesia. Dari kampung, beberapa kader Palahi, kerap juga mengikuti aktivitas pecinta alam tingkat nasional dan internasional.

Pada setiap kali rekrutmen anggota baru, pengurus Palahi Halawang membuat pengumuman terbatas untuk para pemuda di negeri itu. Para calon anggota yang mendaftar kemudian diundang mengikuti Pendidikan dan Pelatihan (Diklat) di kelas, dilanjutkan dengan Diklat Lapangan.

Tahun ini, Palahi Halawang mempercayakan rekrutmen dan diklat kepada sebuah panitia yang diketuai Fahril Hamzah Tatawalat. Fahril dkk lantas menggelar diklat kelas selama tiga hari dan diklat lapangan, juga tiga hari.

Diklat kelas dilakukan di Seketariat Palahi, sedangkan diklat lapangan dilakukan berpindah-pindah yakni dari Hila ke hutan Oli, Hatupoko, Air Tampayang, dan akhirnya di Air Terjun Waitomu.

Rekrutmen anggota baru Palahi, sekilas nampak biasa-biasa saja. Sebab diklat diikuti hanya enam peserta, seluruhnya berdomesili di kampung, para fasilitator atau trainer hanya dari internal Palahi Halawang yang juga berdomesili di kampung.

“Sejak awal, kami memang tidak berambisi dengan kuantitas. Kami lebih mengutamakan kualitas, niat yang tulus untuk menjadi aktivis pecinta lingkungan,” ujar Sekretaris Palahi Halawang Saman Lating, satu dari enam pendiri Palahi.

Materi-materi diklat pun sudah lazim ada dalam berbagai diklat dasar organisasi pecinta alam. Dalam diklat dasar ini, peserta mendapat materi-materi seperti Kode Etik Pecinta Alam Indonesia, Wawasan Pecinta Alam, Manajemen Perjalanan, Navigasi Darat, Rock Climbing, Caving, Survival, Manajemen Sampah dan materi keorganisasian pecinta alam.

Diklat ini justru menjadi istimewa sebab diselenggarakan secara swadaya oleh pemuda-pemuda kampung. Menurut Ketua Panitia Diklat Fahril Hamzah Tatawalat, dana untuk diklat seluruhnya dari Palahi Halawang dan usaha panitia dari sumbangan para anggota Palahi.

LABORATORIUM ALAM

Selain itu, alam negeri Hila dari laut dan pantai, hingga ke gunung menyuguhkan lanskap yang komplit untuk mengasah rasa sayang kepada alam dan manusia. Dalam diklat lapangan, lintasan yang dilalui menyuguhkan hamparan kebun cengkih dan pala, dusun buah-buahan, hutan, sungai, air terjun, gunung, jurang hingga lembah.

Sepanjang jalan, di kiri dan kanan, peserta diklat bisa menikmati aneka vegetasi maupun hewan liar khas Ambon yang pernah dilaporkan ilmuwan kelas dunia Rumphius (1627-1702). Beberapa di antaranya sagu (Metroxylon rumphii), pakis haji (Cycas rumphii) dan Kenanga (Polythiala rumphii). Rumphius memang pernah tinggal di Hila tahun 1660-1662 dan 1667-1670. Di hutan Negeri Hila yang pernah menjadi laboratorium alam naturalis Rumphius inilah, para peserta diklat melakukan interaksi, survival dan aktivitas lain yang mengasa keakraban untuk cinta dan sayang kepada alam.

Dengan enam anggota baru angkatan ketiga ini, secara total jumlah anggota aktif Palahi Halawang tercatat baru 27 orang. Mereka akan menjadi pelanjut organisasi Palahi Halawang di masa depan.

“Semoga mereka menjadi pecinta alam sejati, bukan pecinta alam yang sekadar gaya-gayaan dengan slayer dan atribut organisasi,” begitulah harapan Ketua Umum Palahi Halawang kepada para anggota baru.

Ali Ridha Bugis,sang komandan regu angkatan ketiga mengaku sejak awal sudah menaruh minat pada Palahi Halawang.  Walaupun di kampusnya Universitas Pattimura ada beberapa pilihan aktivitas, dia lebih tertarik masuk organisasi pecinta alam di kampungnya sendiri.

Selama proses diklat, sebagai komandan regu, dirinya paling sering mendapat godokan berat seperti push up, scout jump dan sebagainya dari para senior.  Namun setelah dibait dengan slayer dan resmi menjadi anggota Palahi Halawang, dirinya merasa proses berat itu telah terbayar.

Bugis juga bertekad menjadi pecinta alam sejati, dan memfokuskan diri pada masalah dan isu lingkungan di negerinya, Hila.

“Dunia atau Indonesia, itu terlalu besar.  Kita tentu bisa terlibat, namun dengan Palahi Halawang, kita bisa mulai dari negeri sendiri,” ungkapnya (Maluku Online)

 

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=5934

Posted by on Jan 12 2015. Filed under artikeL, berita terbaru, pemuda. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented