|

Serbuan Penyair Hitu Pada Malam Kapata Di Ambon

Suasana Malam Kapata di Taman Pattimura Ambon, Kamis kemarin (foto roesda leikawa)

Suasana Malam Kapata di Taman Pattimura Ambon, Kamis kemarin (foto roesda leikawa)

Laporan Ronal Regan– Ambon

MALUKU ONLINE, 16 Januari 2015

Hajatan sastra bertajuk Malam Kapata, kembali digelar Bengkel Sastra Maluku di Taman Pattimura Ambon, Kamis (15/1). Sebanyak 38 penampil naik ke pentas membacakan puisi-puisinya.  Para penyair remaja dari Negeri Hitu mendominasi Malam Kapata edisi Januari ini, dengan menghadirkan penyair terbanyak.

Acara dipandu Revelino Berry dan Rudi Fofid dari Bengkel Sastra Maluku. Para penyair yang berpartisipasi datang dari berbagai komunitas seni dan sastra di Ambon dan sekitarnya. Selain Bengkel Sastra Maluku, komunitas lainnya yang berpartipasi adalah SMA Negeri 4 Ambon, Sanggar Merah Saga, Komunitas Lentera, Komunitas Hikayat Tanah Hitu, Bengkel Seni Embun, Persatuan Anak Muda Maluku (PAMM), Ikan Asar, dan penyair perorangan.

Bengkel Sastra Maluku hanya menghadirkan, dua penyair yang membacakan puisinya yakni Revelino Berry dan Rudi Fofid. Revelino menampilkan dua puisinya yakni Candle Light Poetry dan Bunga Tidur . Rudi Fofid membaca puisinya Perjalanan, dan puisi Pasir dan Ombak (Helena Victoria Fofid).

Penyair-penyair lain datang dari komunitas di luar Bengkel Sastra Maluku. Theoresia Rumthe alias Perempuan Sore datang dari Bandung. Ia membaca puisinya berjudul Tanah Raja-Raja. Dari Yogyakarta, ada Althien Pesurnay membaca puisinya Di Jazirah Sana. Aprino Berhitu, juga dari Yogyakarta menyampaikan orasi pendek.

Komunitas Merah Saga menghadirkan Farouk, Ile Wael dan Vita Wakano. Farouk membaca karyanya berjudul Hymne, Ile menyuguhkan Untuk Yang Mencintai Dan Tak Saling Memiliki, sedangkan Vita membaca Hujan Basah.

Persatuan Anak Muda Maluku menghadirkan Yani Salampessy dengan puisinya Kusebut Nama Kekasihmu, Alan Jempormase (Tangisan), Maya Somarwain (Adzan Di Sungai Tomu karya Rudi Fofid), Jerry Hatumena (Imajinasi), Kinanti Gaite (Hatiku) dan Machfud (Persatuan Anak Muda Maluku). Ada juga Isye Pattipeiluhu (Pulang Pada Jati Diri), Rian Leimena (Penantian Sang Garuda) dan Rian Sahulata (Satu Cinta Dalam Perbedaan).

Dari Komunitas Lentera, ada Citra Dewi (Puisi Rindu), sedangkan personil band Ikan Asar membaca Christianto Pattinama membaca puisi karya Weslly Johanes berjudul Satu Saja Musim Bunga. Biduan dan penyair Wilander Waas juga menampilkan puisinya Masih, Kopi Rindu Bibir

Perempuan penyair Masya Ruhulessin membaca puisintya Mata, Koran Pagi. Sedangkan Elfira Halifa tampil dengan puisinya Alam Disesaki Kecemasan, rekannya Roesda Leikawa mempersembahkan Aku dan Belalang.

Malam Kapata dimeriahkan penampilan murid dan guru SMA Negeri 4 Ambon. Guru yang juga penyair Roymon Lemosol membaca tiga puisinya Nanaku, Sirimau dan Hutan Kota. Ia membawakan juga puisi Pelarian Terakhir karya Dominggus Willem Syaranamual.

Sebelumnya, Femi Ferdinandus mempersembahkan musikalisasi puisi berjudul Kapata Anak Kapitan. Femmy, Mike Wattimena dan Rachel Loupatty membuat suasana jadi meriah dengan musikalisasi puisi Menari Bulan karya Rudi Fofid, yang pernah membawa mereka menjadi juara harapan se-Indonesia Timur. Rachel Loupatty masih memeriahkan lagi malam Kapata dengan Hujan Di Akhir Bulan Juli (Roymon Lemosol).

HIKAYAT TANAH HITU

Komunitas yang paling banyak berpartisipasi adalah Hikayat Tanah Hitu.   Mereka datang dari Negeri Hitu, di Jazirah Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah. Para penyair ini seluruhnya siswa SMA.

Meskipun masih belia, mereka tidak canggung tampil di antara para penyair senior.  Puisi-puisinya kritis dan tajam, dan penampilannya tergolong matang. Tidak heran, penampilan mereka selalu mendapat sambutan meriah.

Para Rijali Muda itu antara lain Yayuk Olong dengan puisi Sabda Semesta Tentang Ibu (Fahmi Pelu),  Shuaib Pelu (Teruntuk Afian Al Ayubbi), Muhammad Faizal Pelu (Kita Satu), Ekshal Pelu (Teka-Teki), Fahmi Pelu (Barakate Yau dan Nusa O).

Penyair lain dari Hikayat Tanah Hitu adalah Fikri Pelu (Semangat Kami), Firman Rumahalo (Takdir Hidupku Yang Malang), Ibrahim Ruhunussa (Aceh, Aku Hanya Penyair Dungu) dan Yadi Slamat (Salahutu oleh Fahmi Pelu).

Hikayat Tanah Hitu menampilkan juga poetry rap, Hikayat Tanah Hitu. Trio M.Faizal Pelu, Shuaib Pelu dan Farid Tuankotta menampilkan lirik-lirik peringatan di bawah judul Stop AIDS.  Satui penyair lain dari Hitu namun bukan dari komunitas Hikayat Tanah Hitu adalah Safril Pelu.  Ia membaca puisi karya  Hasan Aspahani berjudul Sungai Yang Mengaliri Negeri Kami.

Malam Kapata bulan Januari ini berakhir tengah malam. Koordinator Bengkel Sastra Maluku Revelino Berry menyebutkan, dirinya sangat puas sebab 38 penampil semalam adalah sebuah rekor tersendiri. Sebelumnya, pada bulan November lalu di Negeri Morella, terdapat 28 penampil.

Menurut Revelino, pada 14 Februari, Bengkel Sastra Maluku menggelar kembali Malam Kapata. Tema berikutnya adalah Tentang Cinta. Ia mengundang kembali para penyair Maluku untuk berpartisipasi. (Maluku Online)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=5961

Posted by on Jan 16 2015. Filed under artikeL, berita terbaru, budaya, pemuda. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented