|

Solidaritas Internasional Serukan Pembebasan Bokum Dan Nuhu

Laporan Abe Ngingi – Seam Reap, Kamboja

MALUKU ONLINE,

Keterangan foto: Beberapa aktivis membuat foto kampanye pembebasan Bukum dan Nuhu (foto abe ngingi)

Keterangan foto: Beberapa aktivis membuat foto kampanye pembebasan Bukum dan Nuhu (foto abe ngingi)

Wajah dua warga Togutil Bokum (35) dan Nuhu (40) yang ditahan polisi diproyeksikan ke layar sehingga terlihat sangat jelas. Dua pria Halmahera yang tak bisa berbahasa Indonesia itu menjadi buah bibir. Nama mereka disebut dan poster dan pamfllet sederhana dipindahkan dari tangan ke tangan.

Itulah yang terjadi di Hotel AngkorwatLand, Seam Reap, Kamboja, 13-16 Maret lalu, ketika utusan Aliansi Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) mempresentasikan kasus orang Togutil dalam forum masyarakat adat internasional.

Kepala Divisi Hubungan Internasional Pengurus Besar AMAN Patricia Watimena didampingi Albert Junior Ngingi dari AMAN Maluku Utara bersama-sama memaparkan kasus yang menimpa Bokum dan Nuhu. Aktivis internasional menyimak kasus ini secara serius.

Wattimena menegaskan, proses penangkapan Bokum dan Nuhu oleh polisi tidak sesuai prosedur. Mereka bertindak hanya dengan dasar streotip bahwa orang Togutil itu kejam. Tindakan polisi ini kian menguatkan pandangan bahwa Togutil itu jahat dan tidak bermoral.

“Ini yang kami sesalkan dari sikap aparat kepolisian. Kami sangat menyesalkan prosedur yang salah oleh polisi sebab mereka tidak bertindak sebagaimana mestinya. Bokum dan Nuhu belum pasti pelaku pembunuhan,” ujarnya.

Dijelaskan, setiap orang mempunyai hak untuk diperlakukan setara di hadapan hukum, termasuk Bokum dan Nuhu. Sebab itu, Wattimena menyatakan mendukung upaya proses praperadilan oleh pengurus AMAN Maluku Utrara atas kasus ini.

Sementara Albert Junior Ngingi juga menambahkan, di dalam wilayah jelajah kelompok masyarakat adat Togutil Akejira tempat vBokum dan Nuhu berasal, terdapat kurang lebih 20 perusahan tambang yang menguasai wilayah ini dengan luasan konsesi lebih dari 100.000 hektar.

“Kami menduga upaya ini dilakukan agar komunitas adatTogutil Akejira bisa meninggalkan wilayah mereka melalui upaya relokasi oleh pemerintah yang pada akhirnya akan memperlancar aktifitas perusahaan-perusahaan tambang seperti PT. Weda Bay Nickel.“ papar Ngingi di hadapan forum tersebut.

Setelah mendengar panjang lebar laporan AMAN, berbagai macam bentuk solidaritas pun datang dari seluruh peserta forum. Mereka lantas membuat aksi berfoto dengan gambar Bokum dan Nuhu dengan tulisan “Free Bokum and Nuhu” (Maluku Online/Editor rudifofid@gmail.com)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6175

Posted by on Mar 17 2015. Filed under berita terbaru, budaya. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented