|

Alex  Litaay,  Kesetiaan Dan Pengkhianatan

 

Alex Litaay bersama Jauhary Oratmangun dan Semuel Samson, trio putera Maluku yang pernah menjabat duta besar RI. (foto galamedia)

Alex Litaay bersama Jauhary Oratmangun dan Semuel Samson, trio putera Maluku yang pernah menjabat duta besar RI. (foto galamedia)

 

Catatan Rudi Fofid,  Pemred Mimbar Rakyat

SAYA duduk di barisan kedua dari belakang, di aula Hotel Wisata Internasional, Jakarta, akhir 1980an.  Sebagai mahasiswa usia 20-an tahun, saya tidak berani bicara di antara sekitar 600 orang hebat Maluku di Jabotabek, yang berkumpul dalam seminar Perspektif Kepemimpinan Masyarakat Maluku.

Menteri Pertahanan dan Keamanan L. B. Murdani menjadi pembicara kunci, dalam seminar yang penuh gelora, sebab semua ingin putera daerah menjadi Gubernur Maluku.  Maklum, setelah G. J.  Latumahina,  tak ada lagi orang Maluku jadi gubernur.

Sekum PP GMKI  Nus Liur bertanya kepada Murdani, mengapa orang Maluku tidak lagi dipercaya memimpin daerahnya sendiri.

“Satu orang gubernur di antara 26 provinsi di mata presiden adalah persoalan kecil.  Kalian pulang dululah selesaikan persoalan di Maluku.  Kalau kita menunjuk seorang Katolik di Langgur menjadi gubernur, apakah orang Ternate yang Muslim bisa terima?  Atau sebaliknya, kita angkat seorang Muslim Ternate menjadi Gubernur Maluku, orang Katolik di Langgur bisa terima?” Kata Murdani.  Suasana seminar jadi hening.

Setelah sesi pembicara kunci itu selesai, barulah Sekjen PP PMKRI Yos Rahawadan  mengkritik ucapan Murdani.  Menurut Rahawadan, Murdani mengatakan persoalan Gubernur Maluku adalah hal kecil karena dia menteri.

“Murdani sebut masalah kecil karena dia melihat dari Jakarta.  Dari Maluku, kami memandang hal ini sebagai persoalan besar,” ujar Rahawadan sambil membesarkan volume suara.

Rahawadan kemudian meminta tanggapan beragam pihak.  Satu tokoh yang diminta tanggapannya adalah Ketua DPP GAMKI Alexander Litaay.  Saya kaget, sebab orang bernama Alex itu duduk paling belakang, persis di belakang saya.  Inilah untuk pertama kali saya bertemu dengan pria bertubuh kecil yang duduk diam-diam saja di barisan paling belakang dan kurang mencuri perhatian peserta.

Enam tahun setelah perjumpaan itu, saya sudah menjadi wartawan di harian Suara Maluku.  Pemimpin Redaksi Etty Manduapessy dari Jakarta menelepon dan meminta Redaksi Suara Maluku mewartakan sebuah kabar baik.  Megawati yang dipilih menjadi Ketua DPP PDI memilih Alexander Litaay menjadi Sekretaris Jenderal, mendampinginya.

“Ini keadaan serba sulit.  Jadi, Megawati membutuhkan seseorang yang setia.  Alex itu orang Maluku dan sangat setia,” kata Manduapessy ketika menceritakan ihwal Megawati dipasangkan dengan Alex.

Manduapessy jualah yang membawa Sekjen PDI itu datang ke Ruang Redaksi Suara Maluku di Mardika.  Di dalam ruang redaksi, kami berdiskusi tentang demokrasi di Indonesia.  Alex berpendapat, salah satu ciri penting bagi Indonesia untuk dapat disebut demokratis adalah keadilan.

“Bagi Maluku, demokrasi adalah keadilan pemerintah pusat kepada Maluku.  Jika pusat belum berlaku adil kepada Maluku, maka Indonesia belumlah demokratis,” ujarnya  dalam diskusi tersebut.

Ketika Megawati sebagai Ketua Umum PDI berkunjung ke Saparua, hanya ada dua wartawan cetak yang mengikuti perjalanan tersebut.  Saya dan Max Aponno berboncengan ke Tulehu, lalu naik kapal feri menuju Saparua.  Di atas kapal feri, ada Megawati dan Alex Litaay,

Mangara Siahaan, dan para pentolan reformasi dari partai banteng.
Megawati disambut secara megah oleh warga Saparua, mulai dari pelabuhan Haria.  Mula-mula Megawati dan Alex didaulat masuk baileo Haria.  Di sana, Megawati dilantik sebagai Inalatu Maluku.  Setelah itu, perjalanan dilanjutkan ke Ullath, kampung halaman Alex.

Saya dan Max Aponno mendapat kesempatan makan siang di rumah Alex, duduk dekat Megawati.  Tapi acara paling penting adalah Megawati dan Alex dibawa ke dalam Baileo Ullath.  Di sana, Megawati dilantik lagi secara adat menjadi Inalatu Maluku, sedangkan Alex dilantik menjadi kapitan.

“Alex, terima parang ini sebagai kapitan, tugasmu adalah menjaga Megawati sampai mati,” kata pejabat adat yang memimpin pelantikan.

Dari Baileo,  Megawati dan Alex diarak ke gereja.  Pendeta dan jemaatpun mendoakan kedua politisi agar kelak mampu berjuang demi kepentingan rakyat.

Tampilnya Megawati sebagai sosok yang diharap membawa perubahan di Indonesia, telah mencemaskan Presiden Soeharto.  Tanda-tanda bahaya perlawanan rakyat sudah terlihat dengan keinginan adanya perubahan.  Ketika rakyat makin kritis, LSM dan mahasiswa kian gencar melakukan aksi,  terjadilah penculikan aktivis.  Demikian pula, posisi  Megawati diguncang prahara internal ketika kubu Soerjadi-Fatimah Ahmad menggelar KLB atas dukungan penguasa, menyebabkan DPP PDI pimpinan Megawati gagal ikut pemilu 1997.

Tapi ada peristiwa menarik yaitu, di tengah kasus penculikan aktivis, tiba-tiba Alex pun hilang dan dipastikan bahwa Alex diculik.  Pius Lustrilanang juga diculik dan mengalami penganiayaan, sedangkan Wiji Thukul hingga kini entah di mana rimba dan kuburnya.

Dalam suasana Alex tidak diketahui di mana gerangan, muncullah spekulasi bahwa Alex sedang mengalami proses penjinakan.  Dia diculik agar diajak bekerja sama dengan penguasa, dan meninggalkan Megawati.

Ada pendapat bahwa Alex tidak punya uang atau harta yang berlimpah.  Sebab itu, dia ditawari bertumpuk-tumpuk uang, asalkan rela meninggalkan Megawati.  Alex disangka banyak orang, bawa sebagai orang “kasiang-kasiang”, tentu akan tergoda dengan bayaran tinggi.

Saya bertemu Max Aponno.  Saya mengajukan pertanyaan sederhana.  “Apakah Om Max yakin Alex akan meninggalkan Megawati?”  Mendengar pertanyaan itu, Max Aponno menggeleng.

“Saya kira, tidak,” ujarnya.

“Kalau Alex itu lelaki Saparua sejati, anak adat, dia pasti pegang janji sebagai kapitan di Baileo Ullath, yang dikukuhkan oleh pendeta di gereja,” kata saya kepada Max Aponno.

Seminggu saja Alex disekap oleh “saudara-saudara” sendiri dan benar dirayu untuk meninggalkan Megawati, tapi Alex kembali dalam keadaan sehat walafiat.  Kisah penculikannya kemudian secara ekslusif diceritakan kepada harian Merdeka.  Harian Suara Maluku sudah memuat bagian pertama testimoni Alex, dan akan ada  sambung menyambung pada hari-hari berikut.

Ternyata, Alex mengajukan embargo.  Semua wawancara tentang penculikan itu dianggap tidak pernah ada.  Harian Merdeka menghormati ketentuan  embargo, sebagaimana diatur dalam kode etik jurnalistik.  Alex juga menelepon Suara Maluku dan memberi isyarat bahwa kisah penculikannya menjadi rahasia, oleh suatu alasan yang gawat.  Sebab kalau terus dimuat dan terbukalah aib para penculik, bisa jadi, hidup Alex justru terancam, lebih dari sekadar penculikan.

Alex dua periode menjadi Sekjen PDI dan PDI Perjuangan.  Dia terpilih menjadi anggota DPR RI.  Ketika Megawati menjadi presiden, orang menyangka Alex akan menjadi menteri, ternyata tidak.  Maka pada suatu ketika, berlangsung sebuah debat kandidat presiden di Gedung Pemuda, Ambon.

Rury Munandar mewakili Capres Megawati, sedangkan Ety Manduapessy mewakili Capres SBY.  Saling adu konsep terjadi, saling kritik tidak terhindar.  Saya menjadi orang terakhir yang meminta kedua kubu untuk saling memuji.

“Bagaimana kubu Capres Megawati memuji Capres SBY, dan kubu Capres SBY memuji Megawati?”

Munandar mengatakan, dirinya dua kali bertemu SBY sebagai Menko Polkam.  Dari dua pertemuan tersebut, menurut dia, SBY itu orang yang pandai berbicara.

Sebaliknya, ketika diberi kesempatan memuji Capres Megawati,  Manduapessy mengatakan, Megawati adalah benar-benar seorang anak Soekarno.

“Saya dekat dengan Megawati. Orangnya cerdas.  Sayang, dia mengkhianati kita di Maluku,” paparnya.

Pada kesempatan di luar debat itu, barulah saya mendapat konfirmasi dari Manduapessy bahwa dirinya sangat kecewa karena Alex yang sangat setia kepada Megawati, tidak diberi kepercayaan menjadi menteri.

Suatu ketika, Jafry Tahitu dari GMKI Cabang Ambon mengajak saya ke Ullath, dalam sebuah kegiatan antara GMKI dengan AMGPM Lease.  Saya memaparkan sebuah makalah bertajuk Saparua Di Tengah Gelombang Globalisasi.

Saya menyebut Saparua sebagai tanah air para wartawan, tanah air para dokter, tanah air para politisi dan birokrat, tanah air para guru, dosen, pendeta dan ustad.  Saparua adalah tanah air para pahlawan.

Seorang tokoh perempuan di Ullath menanggapi saya dengan agak kecewa. Katanya, semua pujian saya kepada Saparua, sia-sia saja.  Sebab banyak orang Saparua pergi sekolah dan dapat kerja di luar sana, tapi tidak kembali membangun Saparua. Sebab itu, Saparua tidak pernah maju-maju.

“Dari dolo sampe oras ini, bagini-bagini saja,” katanya.

Saya menjawab tokoh perempuan itu dengan mencontohkan Alex.  Kalau Alex kita ajak pulang kembali ke Saparua, mau jadi apa dia?  Berpolitik macam apa di Saparua.  Orang level Alex, harus tetap ada di sana.  Begitu juga dengan sosok-sosok lain pada berbagai lini.

“Saparua, pulau kecil ini, biarlah menjadi berkat bagi pulau-pulau lain di Maluku, di Nusantara, bahkan di dunia,” kata saya, mencoba memuaskan tokoh perempuan dan juga peserta seperti Steven Atihuta, Weslly Johannes, Ronny Tamaela, dan rekan-rekan seangkatannya.

Kabar berpulangnya Alex di Kroasia, membuat saya teringat kembali pada banyak kenangan, di antaranya yang saya kenangkan kembali dalam catatan ini.  Setidaknya, tesis saya bahwa Saparua menjadi berkat bagi pulau lain, telah dibuktikan sendiri oleh Alex dengan kesetiaannya.

Selamat Jalan Bung Alex.  Di tubuhmu yang kecil, tersimpan duniamu yang besar.  (*)

Tulisan ini pernah dimuat di harian Mimbar Rakyat dengan judul: Selamat Jalan Alex Litaay, Di Tubuhmu Yang Kecil Tersimpan Duniamu Yang Besar.

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6646

Posted by on Jun 29 2016. Filed under artikeL, berita terbaru, Maluku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented