|

Bocah Pelantun Adzan Di Kebun Cengkeh

Bocah pelantun Adzan dalam puisi Beduk-Yatim

Bocah pelantun Adzan dalam puisi Beduk-Yatim

 

 

 

Catatan Rudi Fofid – Ambon

SAYA ke Kampus IAIN Ambon di Kebun Cengkeh, Selasa (28/6) petang.  Paparisa Ambon Bergerak menggelar Ramadhan Berbagi bersama anak-anak yatim.  Ini penyelenggaraan yang ketujuh kali.

Saya mendapat tugas dari adik-adik yang susun acara untuk baca puisi Ramadhan.  Kebetulan puteri saya Helena Victoria sedang berada di Ambon, jadi saya ajak dia ke sana.  Puisi yang akan saya bacakan, sengaja dibikin dalam bentuk dialog.   Saya menjadi beduk, sedangkan Helena menjadi anak yatim.

Bagian akhir dari puisi bertajuk Beduk-Yatim itu menghendaki suara Adzan.  Sebab itu, saya membutuhkan bantuan seseorang untuk melantunkannya nanti.

Ketika tiba di aula lama IAIN, saya menemukan para seniman muda dari komunitas-komunitas kreatif, termasuk para pegiat dari Milanisti Sezione Ambon (MSA).  Panitia tahun ini memang diserahkan kepada MSA.  Vajrin Poluan menjadi ketua panitia.

Ada juga anak-anak yatim dari beberapa panti asuhan di Ambon.  Saya berpikir, perlu ada seorang anak yang bisa melantunkan suara Adzan secara khusuk.  Tapi saya tidak segera menemukan seseorang.

Sambil menunggu acara dimulai, saya ke samping aula.  Di sana ada satu-satunya anak duduk manis di bangku.  Tanpa berkenalan, saya hanya tersenyum padanya lalu mengajukan pertanyaan kecil.
“Di acara ini, apa tugasmu nanti?”

“Saya baca Kalam Ilahi,” jawab anak itu.

Saya langsung saja ke niat saya melibatkan seseorang saat baca puisi nanti.  Saya tunjukkan padanya naskah puisi, yang pada bagian akhir harus ada Adzan.

“Bisa terlibat dengan saya dan Helena pada bagian ini?” Begitu saya meminta.
Tanpa ragu, tanpa tanya, bocah itu langsung mengangguk setuju.  Saya suka sebab dari matanya, tidak ada sedikit keraguanpun.  Kesediaan untuk terlibat dengan orang yang baru dikenalnya, itu sangat penting.
Acara Ramadhan berbagi akhirnya mengalir.  Dari pembacaan Kalam Ilahi, saya sudah bisa merasakan bahwa ternyata saya tidak salah pilih.  Maka tanpa latihan apa-apa,  kami bertiga naik di pentas.  Saya dan Helena berdialog dalam puisi, dan akhirnya, tiba saatnya Adzan dikumandangkan.
Saya menyaksikan sejumlah anak dan beberapa orang dewasa mencucurkan air mata.  Keharuan Ramadhan, keharuan puisi dan keharuan Adzan.   Tuhan memang mengharukan.  Saya senang dan berbahagia sebab di Ambon, masih ada keharuan.  Bahkan, keharuan terus tumbuh di mana-mana.
Ketika menulis catatan kecil ini, saya baru sadar, saya sungguh-sungguh alpa sehingga nama anak yang membaca Kalam Ilahi dan Adzan tersebut tidak saya ketahui.   Saya memang larut sampai lupa menanyakan nama dan alamat.
Terima kasih, remaja bersuara Malaikat.   Ambon ini kecil.  Saya pasti menemukanmu, sebelum Lebaran tiba.  Selamat menempuh hari-hari terakhir Ramadhan.
Benar saja.  Setelah tulisan ini dipublikasi, saya kemudian menanyakan Ketua Panitia Ramadhan Berbagi Vajrin Poluan memberitahu saya,  bocah ini bernama Syahril, dari TPQ Hidayatullah Airmata Cina.   Dia pernah menjadi salah satu pemenang dalam lomba stand up dakwah.

Ambon, 29 Juni 2016

Lihat videonya di sini: https://www.youtube.com/watch?v=1wXTFrD8hGA

 

 

 

 

 

 

 

 

 

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6654

Posted by on Jun 29 2016. Filed under artikeL, berita terbaru, budaya, Maluku, pemuda. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented