|

Dedy Darwis, Sosok Sederhana Di Balik Pesona Gayatri Wailissa

Dedy Darwis Wailissa (foto fb dedy darwis wailissa)

Dedy Darwis Wailissa (foto fb dedy darwis wailissa)

 

Laporan Ihsan Reliubun – Ambon
Mahasiswa Jurnalistik IAIN Ambon

DEDY DARWIS WAILISSA (60), seorang seniman. Walaupun usianya sudah lanjut, tubuh dan senyumnya masih menawan. Jika berbicara,  suaranya terdengar khas penyiar radio.  Dia memang pernah popular selama hamper 20 tahun di udara..

“Kalau menyebut nama saya, orang masih kenal,” ujar mantan penyiar Radio Favorite sambil menunjuk ke arah fotonya saat menyiar dulu.

Darwis pun mengaku sempat membacakan puisi-puisi indah penyair Maluku Josep Matheus Rudolf Fofid, biasa disapa Opa.

“Opa sering mengirim puisi-puisinya ke Radio Favorite,” ujar Darwis sambil mencontohkan gayanya sebagai penyiar radio.

Ada yang lebih menawan dari ceritanya sebagai seorang penyiar radio. Pada tahun 2000, Darwis bersama keluarganya pindah di kampung-halaman istrinya, Nurul Idawaty (51), di Blitar, Jawa Timur. Di sana, ia memulai hidup baru bersama keluarganya. Sebagai kepala rumah tangga, Darwis harus berusaha menafkahi keluarga dan memberi pendidikan untuk anaknya.

Darwis sempat kebingungan. Bagaimana mencari kerja, menghidupi keluarga. Setelah berhenti sebagai penyiar radio Favorite di Waihaong, Ambon. Blitar adalah tempat yang baru dan asing untuknya. Pantang menyerah ia bertahan hidup. Bertemulah dia dengan lelaki asal Sumatra. Pertemuan itulah yang menjadikannya hingga sekarang.

Darwis dipertemukan dengan seorang seniman, Abdul Haji. Lelaki itu bekerja sebagai pembuat kaligrafi di pasar Legi, dalam bahasa Blitar artinya manis. Di pasar ini Darwis mulai belajar dari Abdul, orang yang baru ia kenal saat itu. Pengukir ayat Al-Qur’an dari seutas kayu.

Beta belajar dari Abdul dan akhirnya beta bisa buat sendiri dan bisa menghidupi keluarga.” Tutur lelaki beranak tiga itu. Tahun 2005 Darwis bersama keluarga kembali ke Ambon.

 

TANGAN DINGIN

Masih ada yang lebih berharga dari cerita lelaki pencinta seni dan olahraga itu. Darwis seorang ayah sekaligus pendidik yang bijak. Masih lebih manis dari suaranya sebagai seorang penyiar radio dahulu.

Pada 31 Agustus 1995 Darwis dan Idawaty dianugrahi seorang putri kedua. Gayatri Wailissa. Gadis belia yang mampu mengusai 14 bahasa asing. “Tangan dingin” yang dipakai mengukir kaligrafi, Darwis menggunakannya mendidik Gayatri.  Gayatri tumbuh dan besar sebagai seorang tokoh. Puluhan prestasi diraih sejak dibangku Sekolah Dasar (SD) sampai di Sekolah Menengah Atas (SMA) Siwalima.

Sejak SMP,  Gayatri tergabung dalam komunitas “Kapata Damai”. Lewat seni dan sastra ia dan teman-temannya selalu berkampanye aksi damai untuk Maluku.  Di usia remaja perempuan yang berbakat di bidang bahasa itu harus menutup usia. Kamis 23 Oktober 2014. Di Rumah Sakit Abdi Waluyo, kawasan Menteng, Jakarta Pusat.

Bicara soal perempuan satu ini, tidak begitu asing lagi. Tentu, dari orang dewasa sampai anak-anak. Dari lokal sampai nasional—bahkan internasional kenal dengan prestasi yang digapai Gayatri. Kecakapan Gayatri mampu mengharumkan nama Maluku dan Indonesia di belahan dunia.

Namun, keberhasilan si “pahlawan” cilik itu tidak terlepas dari buah didik ayah dan ibunya. Terutama pendidikan spritual. Di masa hidup Gayatri, Darwis selalu mengingatkan Gayatri untuk mengingat waktu. “Waktu shalat,” ujar Darwis sambil memandang foto Gayatri yang terpampang rapi di dinding.

 

SEDERHANA DAN SANTUN

Menurut Darwis,  Gayatri asdalah perempuan yang sangat sederhana. Itulah yang diajarkan Darwis untuk Gayatri. Kisah hidupnya selalu tertanam dalam batin Darwis. Gayatri pun tidak terbiasa hidup ala hedonis.

Suatu hari, Gayatri naik ke kelas tiga. Di SMP Negeri 2 Ambon. Melihat kondisi sepatu dan tas sekolah yang mulai rusak. Gayatri meminta Darwis membeli satu buah tas sekolah dan sepatu. “Kalau bapak belum ada uang tidak apa-apa, tas dan sepatu ini masih bisa beta pakai,” tutur Darwis mengenang ucapan Gayatri saat meminta hadiah kenaikan kelas.

Namun, dengan pendapatan Darwis yang pas-pasan, Gayatri pun tidak memaksa Darwis untuk harus membeli tas sekolah dan sepatu baru. Walaupun tas yang ia kenakan sudah tampak sobek pada jahitannnya. Dan sepatunya yang tampak mulai rusak.

Berkali-kali Gayatri berkompetisi di skala nasional dan internasional,  dan mampu meraih berbagai penghargaan. Tetapi tidak sedikitpun menunjukkan sikap sombong. Di mata Darwis dan Idawaty, Gayatri selalu bersikap sederhana dan  santun kepada mereka. Itulah yang diwarisi Gayatri dari Darwis.

Sikap ramah dan santun, tidak ditunjukkan kepada ibu dan bapaknya saja. Tetapi dengan siapapun. Ramah-tamah selalu Gayatri miliki. Idawaty mengenang, suatu hari saat berbelanja di pasar Batumerah, Ambon. Kembalian  uang sisa dari barang yang ia beli selalu diikhlaskan kepada si penjual. Bukan hanya untuk penjual sayur di pasar. Kepada penarik becak pun Gayatri selalu bersikap demikian.

“Oh, ini ibu Gayatri? Tidak usah bayar ibu, anak itu selalu bayar lebih ke beta,” ujar Idawaty mengenang percakapannya bersama tukang becak yang mengantar Idawaty. Tukang becak itu bercerita pengalamannya, saat becak ditumpangi oleh Gayatri semasa hidupnya

Dari kesederhanaan yang dititipkan kepada Gayatri, Darwis selalu berharap agar putrinya itu mampu memahami arti hidup yang sesungguhnya. “Kalau mau menjadi pohon yang besar harus berani menabrak topan. Dan ketika mau menjadi rumput yang kecil, maka siap diinjak-injak orang.” Darwis, mengenang nasihatnya kepada Gayatri.

Malam itu hening. Angin pun enggan berbisik. Darwis bersama Idawaty dan putra bungsunya tampak diam. Di balik pintu rumah pun ‘tak terdengar ada percakapan. Darwis baru selesai shalat magrib. Putranya sedang menonton televisi. Idawaty sibuk menyiapakan makan malam. Kamis, 19 Mei 2016.

Saat memasuki rumahnya di Jalan Jendral Sudirman, Tantui, Desa Batumerah, Kecamatan Sirimau, Kota Ambon. Tepat di  pojok kiri satu buah lemari berdiri kokoh. Lemari itu tidak berisi pakaian melainkan foto dan berbagai penghargaan dari prestasi Gayatri.

Foto itu menunjukkan  Gayatri sebagai delegasi tunggal (anak) mewakili Indonesia untuk konferensi ASEAN di Thailand tahun 2012. Tahun 2013 Gayatri sebagai delegasi tunggal dari Indonesia dalam konferensi Asia-Pasifik di Nepal. Penghargaan itu masih terpampang rapi di ruang muka rumahnya.

Sesekali Darwis selalu memandang ke arah foto-foto itu. Kemudian, kembali tunduk. Matanya berkaca-kaca. Kemudian, melirik ke kanan. Melihat foto perempuan cantik berdampingan piagam-piagam penghargaannya: nasional dan internasional.

Darwis terbiasa hidup sederhana. Tinggal di rumah sederhana. Tidak semewah rumah-rumah yang berkedudukan di kota. Kesederhanaan itulah yang diajarkan untuk keluarganya. Terutama dalam mendidik putra-putrinya.

“Nak, ketika kamu berhasil. Menjadi orang besar pun bapak tidak akan pernah berhenti bekerja sebagai pembuat kaligrafi.” Darwis mengenang ceritanya semasa Gayatri memulai karirnya.

“Gayatri hanya tersenyum mendengar ucapannya,” Darwis mengenang.

 

MAKANAN HALAL

Satu ketika seorang kolega bertanya kepada Darwis. “Pak, bagaimana cara mendidik anak?”

“Saya hanya memberikan dia makanan yang halal.” Jawab Darwis kepada koleganya. Darwis menyatakan tidak ada ramuan lain. Selain memberikan anak dan istri makanan yang halal.

Menurutnya, makanan itu sangat berpengaruh untuk pertumbuhan anak. Memberi makan anak istri yang tidak jelas jangan ber-“mimpi”. Artinya,  Karena yang halal itulah yang sebentar nanti mengalir di tubuh anak dan membentuk karakter dan kecerdasannya. Untuk Darwis, seorang motivator nasional Aqua Dwipayana pernah bertanya demikian: “Gayatri itu dikasih makan apa, Pak?” Darwis masih menjawab dengan jawaban yang sama.

Darwis pernah ditanya para ibu-ibu. “Saat ibunya mengandung Gayatri, mengidamnya makan apa, pak?” Kata Darwis mengulang pertanyaan seorang ibu. “Kalau selera makan orang mengidam itu pasti berbeda-beda. Kadang-kadang ibu mengandung bapaknya yang mengidam,” Mengingat pertanyaan itu Darwis tersenyum lirih. Baginya memberi makanan halal baik untuk pertumbuhan anak.

Itulah jawaban Darwis, menjawab pertanyaan kolega, atau wartawan. Ratusan kali Darwis dan istrinya ditanya persoalan bagaimana cara mendidik anak, sehingga bisa seperti putrinya. Tapi jawabannya tidak pernah berubah.

 

KAKI LIMA

Darwis, pedagang “kaki lima” begitu Gayatri menjuluki ayahnya. “Apa pekerjaan ayahmu?” Tanya seorang lelaki. “Ayah kerja sebagai pedagang ‘kaki lima’, membuat kaligrafi,” tanpa sungkan Gayatri menjawab.

Darwis menceritakan kisah Gayatri saat ditanyai orang terkait pekerjaannya. Lelaki yang bertanya kemudian mengerutkan kening mendengar pekerjaan Darwis yang cuma membuat kaligrafi di pasar. Tetapi memiliki seorang putri dengan kecerdasan luar biasa dan mampu meraih prestasi besar di kancah internasional.

Setelah menjalani hari-harinya sebagai penyiar radio tahun 1981-1999,  Darwis beralih profesi mengukir kaligrafi. Dari sepotong kayu jati, Darwis menopang hidup sehari-hari. Ditambah kesibukannya sebagai seorang seniman, ia tidak pernah luput memberi didikan terbaik kepada putrinya. Gayatri anak kedua dari tiga bersaudara.

Dalam mendidik putrinya, ia selalu mengingatnya dengan cara menghargai waktu. Terutama waktu shalat. Baginya shalat merupakan hal utama sebelum menjalankan aktivitas lain.

“Mengingat waktu shalat, itu yang paling penting,” ujarnya. Menurut sang seniman ini, didikan seperti itu diwarisi dari orangtuanya. Sejak kecil Darwis pun dididik seperti itu.

Pencapaian prestasi Gayatri. Darwis selaku orangtua tidak pernah membatasi keinginan Gayatri. Membuka ruang dan membebaskan Gayatri untuk memilih jalan hidupnya. Namun, hal itu tidak terlepas dari pantauan Darwis dan Idawaty.

Darwis sebagai seoarang ayah, selalu mendukung segala aktivitas anaknya. Terutama dalam hal pendidikan. Gadis belia dengan kemampuan menguasai 14 bahasa itu pernah bertanya kepada Darwis.

“Setelah lulus SMA nanti, beta harus ke mana?” Dengan ramah Darwis menjawab.

“Silahkan ikuti kemampuanmu, bapak selalu dorong dengan doa,” tutur Darwis, mengingat percakapan dengan Gayatri beberapa tahun lalu.

Bagi Darwis kemauan anak tidak boleh dibatasi. Begitulah Darwis mendidik putrinya. Ia tidak pernah membatasi Gayatri dalam segalah pencapaiannya. Berbeda dengan orangtua dahulu. Dulu, katanya, anak selalu mengikuti kemauan orangtua dalam hal memilih pendidikan.

“Untuk Gayatri sendiri, beta selalu beri kebebasan untuk dia memilih pendidikannya.” Kata lelaki kelahiran Banda Naira itu.

Dalam mendidik, Darwis selalu menganggap anak-anaknya sebagai teman. Bercanda, humor, tertawa sama-sama cara Darwis merangkul kebersaamaan keluarga. Namun, saling menghormati antar sesama menjadi pondasi untuk membentuk karakter buah hatinya.

“Kita harus menghormati orang lain, walaupun di mata kita dia itu salah.” Tutur Darwis, mengingat nasihatnya kepada Gayatri.

Tatakrama dan sopan santun selalu diajarkan. Seperti didikan Darwis kepada Gayatri dan anak-anaknya. Keberhasilan Gayatri di pentas apapun setelah kembali ke rumah, Gayatri selalu bersikap ramah. Tidak pernah membantah semua nasihat yang dimpaikan Darwis.

Di balik keberhasilan Gayatri, prestasi luar biasa. Gayatri selalu bersikap religious. Mengimani kepercayaannya sebagai perempuan muslim. Sikap religious inilah selalu ditanamkan Darwis kepada putra-putrinya. Darwis selalu berpesan kepada Gayatri, apapun yang diperhadapkan denganmu serahkan kepada Allah.

“Sesuatu yang terbaik, diatur oleh Yang Maha Kuasa,” kata Darwis sambil menunduk kepalanya.

Selanjutnya, di hari Gayatri dimakamkan. Kata Idawaty, rasa duka itu menyerbu tubuhnya. Begitu juga Darwis. Duka yang begitu dalam.

“Tuhan, kulahihrkan dia dengan jalan yang suci. Kupulangkan dia kepadaMu  dengan keadaan  suci.” Doa Idawaty kepada Gayatri. (MR-10)

Ficer ini pernah disiarkan di harian Mimbar Rakyat, Ambon

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6640

Posted by on Jun 28 2016. Filed under artikeL, berita terbaru, Maluku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. Both comments and pings are currently closed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented