|

Ong Kie Hong, Taipan Ambon Editor Koran Maluku

ong_kie_hong_pasfoto_medium
Oleh Rudi Fofid – Ambon

DALAM usia 30-an, dia sudah jadi taipan kelas dunia.   Bisnisnya lintas pulau dan benua.  Anak-anaknya dikirim belajar ke Belanda dan Jerman.  Sebagai orang kaya, Ong Kie Hong tidak lantas ongkang-ongkang kaki.  Dia pekerja keras, bahkan menyediakan waktu menjadi editor untuk surat kabar yang terbit di Ambon tahun 1894-1902.

Ong Kie Hong lahir di Ambon, 28 Januari 1861.  Ayahnya Peng Liep Ong dan ibunya Kim Nio, perantau dari daratan Cina.  Tahun 1883, Ong Kie Hong menikah dengan Kiok Nio Njio,  puteri pasangan  Njio Tek Liem dan Tan Go Nio, juga perantau Tionghoa di Ambon.  Waktu itu, Ong Kie Hong berusia 22 tahun sedangkan mempelainya berusia 23 tahun.

Bisnis Ong Kie Hong sedang tumbuh ketika lahir anak pertama  Gretha Helena di Ambon, 13 Agustus 1884.   Dari Ambon, ia berbisnis hasil bumi sampai ke Papua, Sulawesi, Pulau Jawa dan Eropa.  Ia mempekerjakan puluhan karyawan dari orang pribumi di rumahnya dekat Kintal Asilulu (sekarang lokasi Masjid Alfatah) dan juga properti utama di Waihaong, persis di muara Sungai Batugantung.

Setelah puteri pertama Gretha Helena, lahir pula anak-anaknya yang lain.  Jumlah putera-puteri Ong Kie Hong sebanyak 16 orang.  Dari penelusuran  dokumen, hanya ada 15 nama putera-puterinya yakni Gretha Helena (kelahiran 1884), Selestien Theresia (1886), Sioe Djien (1887), Henri Conraat (1889), Kok Seang (1890), Simon Egbert (1891), Heinrich Frederik (1894), Sien Everdien (1896), Theodorus Leonardus (1897), Bastian Lodewijk (1898), Anna Lucia (1899), Erna Louisa (1900), Theodora Johanna (1902), Laura Charlote (1903) dan Tony Piet  (1906).

Ong Kie Hong dan istri Kiok Nio Njio (foto ibuko.com)

Ong Kie Hong dan istri Kiok Nio Njio (foto ibuko.com)

Istri Ong Kie Hong yakni Kiok Nio Njio adalah perempuan dengan rahim subur.  Ia melahirkan anak pertama pada usia 24 tahun, dan anak ke-16 pada usia 46 tahun.  Beberapa anaknya lahir berturut-turut setiap tahun.  Artinya, Kiok Nio Njio setiap tahun hamil, terutama pada tahun 1896 sampai 1900.

Ong Kie Hong mengurus bisnisnya secara tekun antara lain jual beli hasil bumi dan membuka toko.  Karyawan perusahaannya mensortir rempah-rempah lalu mengemasnya untuk kepentingan ekspor ke luar negeri.  Dia juga memiliki usaha penggergajian kayu,  mesin cetak sampai galangan kapal.  Bisnisnya yang hebat membuat Ong Kie Hong berpikir tentang masa depan anak-anak.  Enam belas anak, sebagian diarahkan untuk berbisnis, namun sebagian lagi menekuni bidang ilmu kesehatan, terutama kedokteran dan farmasi.

Mulanya, Ong Kie Hong menyekolahkan anak-anaknya di Ambon.  Tapi ia kemudian mengirim mereka ke Belanda.  Anak lelakinya Heinrich Frederik bahkan disekolahkan ke Belanda pada saat masih sekolah dasar.  Hendrik inilah yang kemudian menjadi dokter lulusan Belanda dan Jerman.  Tony Piet, putera Ong Kie Hong  yang ke-16 juga sekolah dokter di Belanda.  Kedua dokter ini sama-sama kembali ke Hindia Belanda dan mengabdi untuk kemanusiaan secara luar biasa.

Si puteri sulung Gretha bekerja sebagai pembuat topi, sedangkan Selestien melanjutkan usaha ayahnya membuat pabrik roti di Ambon.  Sedangkan si putera sulung Djien menjadi seorang perantau.  Ia meninggalkan Ambon saat masih remaja dan bekerja pada galangan kapal di Surabaya.

Pada tahun 1906,  dalam usia 19 tahun, Djien sudah menjadi mualim III di kapal Merapi Scheldt.  Dari sini,  dia bisa berlayar ke manca negara.  Bahkan, Djien sempat turun dari kapal dan bekerja pada sebuah rumah  jagal hewan di Argentina, sampai akhirnya dia memilih belajar Negeri ke Belanda.

Pada siang hari ia bekerja sebagai mekanik di perusahaan listrik di Den Haag. Pada tahun 1910 ia mengambil ujian matematika kelas 5 dan fisika di Mathesis Scientiarum Genitrix Di Leiden . Pada tahun 1911, Djien masuk sekolah teknik di Jerman  dan lulus tahun 1913 untuk teknik mesin dan listrik . Djien yang sempat dijuluki si anak hilang, akhirnya kembali ke Ambon  melanjutkan usaha sang ayah, sampai akhirnya  dia memiliki galangan kapal sendiri di Pantai Waihaong.

Henri Conraat adalah putera Ong Kie Hong yang disiapkan sang ayah untuk melanjutkan seluruh bisnis keluarga.  Sebab itu, dia tidak pergi ke Belanda sebagaimana saudara-saudaranya yang lain.  Untuk mendukung bisnis keluarga, Ong Kie Hong juga mengirim anaknya Simon Egberg ke Belanda untuk belajar ilmu bisnis.  Simon akhirnya kembali ke Ambon meneruskan bisnis yang dirintis ayahnya.

Heinrich Frederik alias Ong Hok Liong menjadi pembuka jalan bagi adik-adiknya di bidang kesehatan. Sebagai dokter, pasiennya mencapai ribuan orang di Den Haag.  Atas pengabdiannya yang panjang di Hindia Belanda maupun di Negeri Belanda,  ia diterima sebagai warga kehormatan Kerajaan Belanda.

Theodorus Leonardus juga bersekolah di Leiden dan menjadi apoteker.  Bastian tadinya masuk Universitas di Delft tapi kemudian sekolah farmasi dan akhirnya sekolah dokter.  Sayangnya, setelah menjadi dokter, justru dia tak bisa bekerja karena tuli dan tidak bisa menggunakan stateskop.

Sien Everdien juga sekolah farmasi dan menjadi apoteker. Sedangkan Anna Lucia menjadi dokter.  Ia tercatat sebagai perempuan Tionghoa pertama yang menjadi dokter di Hindia Belanda.  Anna bekerja sebagai dokter di Makassar dank arena prestasinya yang luar biasa, ia mendapat penghargaan dari lembaga gereja.  Dia juga menjadi direktur pada dua rumah sakit bersalin di Makassar.

Erna Louisa kuliah ilmu administrasi di Belanda dan bekerja di Den Haag.  Sedangkan Laura Charlote kuliah fakultas hukum di Den Haag.  Hampir semua anak Ong Kie Hong akhirnya berkumpul di Belanda, termasuk mereka yang menetap di Ambon.  Pada usia lanjut, mereka pergi ke Belanda.

Untuk suatu alasan politis termasuk demi kepentingan pendidikan anak-anak, Ong Kie Hong mengubah namanya di pengadilan tahun 1906, sehingga semua anaknya kemudian menggunakan marga Ongkiehong, hasil penggabungan nama Ong Kie Hong.  Karena anak-anaknya bersekolah di Belanda, maka nama Ongkiehong lebih dapat diterima sebagai nama Belanda, ketimbang nama Tionghoa.

Ong Kie Hong sendiri tidak sempat melihat kesuksesan pendidikan anak-anaknya.  Pria bertubuh pendek yang humanis dan dermawan itu, meninggal dunia di Ambon pada tanggal 18 Mei 1914 dalam usia 53 tahun.  Bagi orang keturunan Tionghoa, usia ini tergolong muda.

Satu hal yang tidak terlupakan dari sosok Ong Kie Hong adalah ketika  ia membeli mesin cetak dari HM Thorig, yang digunakan untuk mencetak surat kabar.   Sebelumnya Gereja Protestan Belanda Indische Kerk di Ambon menerbitkan majalah Penabur, tapi kemudian ditutup dan diganti dengan Soerat Chabar Moloku bertajuk Penghentar. 

Penghentar terbit pertama kali pada tanggal 4 Oktober 1894.  Pada halaman depan Surat Kabar Penghentar, tertulis wartawan surat kabar ini adalah segala pandita yang bertugas di Residen Ambon.  Ketika Penghentar dicetak di Ambon Drukrij milik Ong Kie Hong, tahun 1897, ternyata sang taipan ini juga berperan sebagai editor bahasa.  Sebab, pada masa itu, para pendeta Protestan berkebangsaan Belanda dan kurang mahir berbahasa Melayu. Padahal, Penghentar menggunakan bahasa Melayu Ambon.  Ong Kie Hong jualah yang mengedit bahasa sebelum koran dwi mingguan itu dicetak.

Ong Kie Hong sempat mengurus manajemen surat kabar ini selama tiga tahun.  Dia kemudian menyerahkan mesin cetak itu kepada Indische Kerk untuk dikelola sendiri oleh pihak gereja.  Penghentar kemudian tidak terbit lagi tahun 1902, tetapi percetakan Ambon Drukrij tetap menerbitkan buku-buku sastra.

Sepeninggal Ong Kie Hong, istrinya Kiok Nio Njio masih hidup menjanda selama 36 tahun, dan baru meninggal dunia di Jakarta tahun 1950 dalam usia 89 tahun.  Cucu-cicit Ong Kie Hong seluruhnya saat ini hidup di Negeri Belanda dan bekerja pada berbagai bidang.  Mereka tetap menggunakan nama famili Ongkiehong di belakang nama mereka.

George Ongkiehong, salah satu cucu Ong Kie Hong di Negeri Belanda.  Meskipun dirinya tahu persis asal-usul keturunan mereka dari Ambon, namun ia mengaku tidak bisa menceritakan secara detail sang kakek mereka.

“Sebaiknya tanyakan kepada saudara saya yang lain, Koen Ongkiehong.  Dia lebih tahu,” kata George yang dihubungi beberapa waktu lalu.

Rumah keluarga Ong Kie Hong di kawasan “Kintal Asilulu”, sekarang jalan AM Sangadji, Ambon. (foto ibuko.com)

Rumah keluarga Ong Kie Hong di kawasan “Kintal Asilulu”, sekarang jalan AM Sangadji, Ambon. (foto ibuko.com)

Kini tidak ada lagi jejak Ong Kie Hong di Ambon.  Rumahnya di Jalan AM Sangadji, menghadap Masjid Alfatah, sudah berpindah tangan.  Propertinya di Waihaong, juga sudah tak berbekas.  Tapi Ong Kie Hong adalah sebuah teladan, bahwa dari Kota Manise, Ambon, orang dapat membangun kerajaan bisnis dan merajut masa depan.  Harta benda boleh habis, kerajaan bisnis boleh berhenti, termasuk usia tak bisa ditakar, tetapi pendidikan anak-anak adalah harta terbesar. (Sumber Geni OKH/Ibuko.com)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6634

Posted by on Jun 24 2016. Filed under artikeL, berita terbaru, Maluku, sosial. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented