|

Bapa Kami, Ampun Katong Jua

rudi
Oleh: Rudi Fofid – Pemred Harian Mimbar Rakyat

TENGAH malam di Ambon. Pria usia 50 tahun membonceng gadis usia 20 tahun dengan sepeda motor ke arah luar kota. Tujuan mereka adalah Negeri Lima di Jazirah Leihitu. Jarak 70 kilometer itu ditempuh dengan kecepatan rendah, 30 km per jam. Maklum, mata pria itu kurang bagus, lampu sepeda motor  kurang terang, dan jalan aspal dari Hitu sampai ke Kaitetu, waktu itu penuh lubang.

Hampir dua jam, akhirnya keduanya melewati perkampungan Negeri Seith dan akan memasuki petuanan Negeri Lima. Nahas sebab setelah mendaki
sebuah tanjakan lantas membelok, si pria rupanya tidak waspada. Aspal di sisi jalan agak sobek membentuk lekukan pada badan jalan. Ban sepeda motor  tergelincir di bibir jalan, sehingga motor terpental. Pria dan gadis itu terguling di aspal.

Seorang pemuda Negeri Lima yang berpapasan dan menyaksikan peristiwa itu memberi pertolongan. Warga datang membantu, membawa si gadis ke
rumah sakit karena benturan keras dan mengalami pendarahan. Beberapa hari lamanya dia dirawat di Rumah Sakit Bhayangkara, Tantui. Pada hari ketiga,  si pria datang ke rumah sakit. Dia bertemu kakak lelaki dan ibunda perempuan itu, lalu menceritakan apa sebenarnya yang terjadi mulai dari Ambon  sampai akhirnya mengalami kecelakaan tunggal di malam hari.
“Saya tidak minta maaf, karena ini memang tak bisa dimaafkan. Kalau harus diproses hukum, saya bersedia. Kalau mama dan kakak marah, itupun saya
terima,” kata pria itu.

Ibunda gadis itu malah memberi hiburan kepada pria tadi. Bahwa tidak usah menjadi beban pikiran. Kecelakaan bisa menimpa siapa saja, kapan saja di
mana saja.

“Tidak ada orang yang merencanakan musibah untuk dirinya,” kata perempuan itu sambil tersenyum.

Kakak gadis itu, juga menegaskan hal yang sama. Mereka lantas bersalam-salaman dalam suasana kekeluargaan.

Kisah di atas bukanlah sebuah rekaan atau fiksi. Pria pengendara sepeda motor itu adalah saya, sedangkan gadis yang saya bonceng adalah Nona Fanny Samal. Saya dan Fanny sama-sama menjadi pegiat pada Kelompok Pecinta Alam (KPA) Kanal Maluku. Setelah menghadiri sebuah kegiatan di Taman Pattimura, kami harus kembali ke Negeri Lima. Di sana, berbagai KPA dan Mapala di Maluku membangun Posko Pecinta Alam Maluku untuk Negeri Lima,  menyusul jebolnya bendungan alam Wai Ela.

Peristiwa musibah malam hari di jalan raya antara Negeri Seith dan Negeri Lima, tentu terus saya ingat dengan rasa haru dan penuh hormat. Alangkah
damainya hati Ibunda Fanny dan kakak kandungnya. Pada kasus sejenis di tempat lain, mestinya saya sudah menjadi semacam korban pelampiasan amarah  keluarga. Nyatanya, keluarga besar Fanny di Negeri Wakal tidak marah kepada saya. Saya bahkan makin sering ke Wakal, terlibat dalam banyak aktivitas orang muda di sana.

Saya berjanji kepada diri sendiri, bahwa pelajaran memaafkan dan mengampuni yang diperlihatkan keluarga Fanny kepada saya, akan saya kenang dan  ceritakan sebagai sebuah kekayaan spiritual yang harus saya wartakan kepada dunia.

Saya juga perlu menceritakan kisah lain tentang seorang cucu saya. Ceritanya, dulu, seorang sepupu lelaki saya dari kampung Ngilngof di Kei, pergi merantau lalu menikah dengan gadis di Seram Timur. Demi cintanya kepada gadis itu, kakak sepupu saya yang Katolik pun masuk Islam dan tinggal di sana sampai beranak cucu. Salah satu cucu adalah Abdul Djabar Tianotak, seorang jurnalis televisi dan dosen di Universitas Pattimura.

Beberapa tahun lalu, cucu saya Djabar Tianotak menerima ancaman dari seorang basudara di Ambon. Ancaman itu disampaikan melalui SMS. Djabar
lantas melaporkan ancaman itu ke Polda Maluku. Saya mendukung langkah legal yang dilakukannya.

“Kalau mau berdamai, bisa saja. Tapi berdamailah di pengadilan kalau diminta oleh hakim,” saran saya kepada Djabar.

Baru satu hari kasusnya dilaporkan ke polisi, tiba-tiba Djabar menelepon saya. Dia bercerita bahwa kasusnya sampai di sini saja, alias dia cabut.
Alasannya, orang yang dilaporkannya sudah datang ke rumah dan meminta maaf.

“Beta ingin kasus ini sampai di pengadilan, Opa. Tapi sioh kasihan, dia sudah datang di rumah dan meminta maaf. Beta pikir, katong ini basudara saja, jadi
biarlah sudah sampai di sini jua,” kata Djabar.

Saya menghormati keputusan bijak yang diambil Djabar. Ini luar biasa dan juga akan saya kenang sebagaisebuah semangat pengampunan yang luar biasa.

Paling akhir adalah kisah penganiayaan oleh sopir dan kenek di jalan Paso-Suli, terhadap anak saya Rizal Akbar yang hendak pulang ke Tulehu. Akbar
sudah berhasil mengidentifikasi para pelaku, juga sudah punya saksi, dan hendak melaporkannya ke polisi. Dia meminta saya menemaninya ke Kantor
Polisi dan saya bersedia. Tapi sampai hari dan jam yang disepakati tiba, Akbar tidak datang. Dia justru menelepon, hanya untuk membatalkan niatnya.

“Ampuni dorang jua, papa. Kemarin itu memang saya bersemangat ke polisi, tapi hari ini saya pikir, sebaiknya memaafkan dorang saja,” kata Akbar.

Sekali lagi, saya menghormati semangat mengampuni yang ada pada diri Akbar, sebagaimana kisah dan semangat mengampuni yang ada pada Ibunda Fanny,  dan Djabar Tianotak. Bahkan, ada banyak kisah sejenis yang saya jumpai sepanjang hidup saya di Maluku Tenggara, Maluku Tengah dan Maluku Utara.

Perihal maaf-memaafkan ini, bukanlah hal kecil dan remeh. Sebagai sebuah bangsa, kita baru saja dilanda ketegangan karena kata maaf. Kivlan Zein,
jenderal pensiun ini mengancam kobarkan perang, apabila Presiden Jokowi menyampaikan permohonan maaf kepada keluarga korban peristiwa 1965.
Ada harga diri tertentu yang sedang dipertahankan oleh Kivlan Zein di balik kata memaafkan atau tidak memaafkan.

Saya sendiri masih ingat peristiwa penembakan terhadap Paus Yohanes Paulus II oleh Mehmet Ali Asqa. Para dokter berhasil mengangkat timah di dalam perut paus. Lantas setelah paus keluar dari rumah sakit, ia pergi ke penjara, bertemu Mehmet, memeluknya dengan sayang dan memberi pengampunan.

Sebenarnya, saya sudah merasa terganggu dengan praktik mengampuni atau tidak mengampuni, memaafkan atau tidak memaafkan, sejak saya masih anak-anak yang belajar menghafal doa-doa Katolik yang ada pada Katekismus seperti doa iman, doa cinta, doa pengharapan, doa tobat, dan terutama doa yang  diajarkan Yesus sendiri, Bapa Kami. Dalam doa Bapa Kami, Yesus mengajarkan: “Dan ampunilah kami seperti kamipun mengampuni (orang) yang bersalah kepada kami”.

Pada suatu waktu, saya sempat berpikir bahwa doa ini sering diucapkan secara kering. Artinya Bapa Kami hanya di bibir saja. Sebab orang berdoa tapi sambil tetap menyimpan dendam dan tidak mengampuni. Kita pergi ke gereja yang sama, menyanyikan lagu Bapa Kami secara bersama-sama tetapi
kemudian, setelah meninggalkan gereja, kita malah saling gantung muka, buang muka, bikin muka batu, muka tajam dan ekspresi benci dan dendam.

Saya pernah mengeluh kepada Pastor Jan van de Made MSC tentang situasi ini. Kita berdoa Bapa Kami, tapi sebenarnya banyak di antara kita yang tidak
mengampuni. Artinya, setiap kali mengucapkan doa Bapa Kami sambil merawat amarah, dendam, benci, cemburu dan tak sudi memaafkan sesama, kita sebenarnya sedang tipu-tipu Tuhan secara vulgar di dekat altar.

“Memaafkan, mengampuni, itu memang berat. Orang harus keluar dari ego. Kalau dia bisa memaafkan, mengampuni, dia akan berbahagia,” kata Pastor van de Made kepada saya, pada suatu musim penghujan di Telaga Kodok, Negeri Hitu. Saya berjanji, kalau kelak mendapat kesempatan memberi ampunan  seperti Paus kepada Mehmet, saya akan melakukannya.

Ucapan Pastor van de Made itu, selalu saya ingat. Terlebih, saya menemukan pesan yang sama dalam lirik lagu Bing Leiwakabessy berjudul Maafkan. Lirik
akhirnya begini:

“Kini kusendiri menjadi bimbang dan ragu
Pada siapa kuungkap semuanya itu
Hanya dari jauh dapat kujeritkan kata maafku
Semoga engkau menerima jeritaku
O maafkan, maafkan daku ini
Hancurlah hatiku dalam hidup yang begini
Bila kusadari semua kesalahanku
Pasti hidupku berbahagia nanti”.

Beberapa penulis dan wartawan pernah membaca tulisan saya di buku Carita Orang Basudara maupun buku Seekor Burung Kecil Biru di Naha: Konflik, Tragedi, Rekonsiliasi  yang ditulis sastrawan Linda Christanty. Mereka bertanya kepada saya, tentang ayah dan dua kakak saya yang tewas dalam konflik di Bacan, Maluku Utara. Mereka mengajukan pertanyaan yang “membongkar”: Apakah anda tidak dendam kepada Islam?” Saya menjawab, tentu saja saya tidak dendam kepada Islam sebab dalam konflik Maluku, para pelaku maupun korban adalah sama-sama korban dari sebuah skenario. Jadi saya tidak bisa marah kepada pelaku (yang adalah juga korban), apalagi kepada Islam sebagai agama, apalagi kepada Islam-Maluku yang menjadi bagian hidup saya.

Dalam dua bulan ini, saya dua kali pergi ke Mamala-Morella. Saya menyaksikan sukacita dan ketulusan orang Mamala dan Morella yang merajut perdamaian di sana. Saya ikut berbahagia dan saya yakin, perdamaian di sana telah menemukan titik berangkat yakni memaafkan, mengampuni.

Sebentar lagi, Lebaran tiba. Saya tentu tidak sanggup berjalan dari rumah ke rumah, kampung ke kampung, menjumpai basudara Muslim yang sedang
merayakan hari kemenangan setelah beribadah puasa secara jaya. Namun dengan segenap keterbatasan, saya ingin menyampaikan permohonan maaf
kepada basudara Muslim, untuk semua kesalahan pribadi, atau karena profesi, atau karena saya Kristen yang pernah melukai. Selamat menyongsong pesta, mengumandangkan takbir Allah Akbar!

Karangpanjang, 3 Juli 2016

Tulisan ini dimuat di harian Mimbar Rakyat, edisi 5 Juli 2016

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6663

Posted by on Jul 4 2016. Filed under artikeL, berita terbaru, Maluku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.

Warning: file_get_contents(https://graph.facebook.com/comments/?ids=http://malukuonline.co.id/2016/07/bapa-kami-ampun-katong-jua/): failed to open stream: HTTP request failed! HTTP/1.1 400 Bad Request in /home/virtualt/public_html/malukuonline.co.id/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 17

Warning: Invalid argument supplied for foreach() in /home/virtualt/public_html/malukuonline.co.id/wp-content/plugins/facebook-like-and-comment/comments.php on line 19
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented