|

Eliza Urbanus Pupella, Wartawan Kawakan Yang Ditenggelamkan Sejarah

Catatan Rudi Fofid-Ambon
MALUKU ONLINE, 25 Januari 2017

Foto: Eliza Urbanus Pupela

ELIZA Urbanus Pupella alias Om Butje adalah tokoh rupa-rupa dimensi. Ia selalu ada di titik tengah pergerakan kemerdekaan, mempertahankan kemerdekaan dan mengisi kemerdekaan Indonesia. Ia tampil di lapangan hijau sebagai pemain inti kesebelasan Jong Ambon dan kesebelasan Perusahaan Minyak Belanda De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) di Makassar. Lain waktu, dia menjadi pemeran utama di panggung teater yang dibubarkan polisi Belanda. Ia mengajar di Balai Pendidikan yang didirikannya di Ambon, di saat lain suaranya menggelegar dalam pidato berapi-api di radio.

Lukisan EU Pupella di antara para tokoh di Workshop Coffee.

Om Butje bisa tampil sebagai politisi ulung dalam parlemen Negara Indonesia Timur (NIT) di Makassar. Mosi tidak percaya yang dilontarannya di parlemen, menyebabkan jatuhnya seorang perdana menteri. Ia pula yang mengajukan nama Ir Putuhena sebagai perdana menteri yang baru. Ketika namanya diusulkan sebagai Gubernur Maluku menggantikan Mr J. Latuharhary, Om Butje malah kembali mengusulkan nama Latuharhary.

“Karena saya tidak dilahirkan untuk menjadi gubernur,” katanya.

Om Butje adalah murid langsung Alexander Jacob Patty di Sarekat Ambon dan Ki Hajar Dewantoro di Perguruan Taman Siswa Yogyakarta. Tidak heran, sosoknya sangat teguh dalam pendirian tapi tetap santun dalam berpolitik, sehingga disegani kawan dan lawan politik. Ia ditakuti oleh penguasa Belanda namun dihormati penguasa Jepang. Ia dimusuhi kelompok Blandis yang ingin Maluku menjadi Provinsi ke-13 Nederland, maupun kelompok yang secara tiba-tiba memproklamasikan kemerdekaan Republik Maluku Selatan (RMS), namun ia disenangi oleh mayoritas tokoh-tokoh Maluku Utara, Maluku Selatan, Maluku Tenggara.

Om Butje memang pernah menjadi anggota Parlemen NIT maupun Parlemen RI mewakili Maluku, namun pada hari tua, ia masih mengurus Toko Buku Masa di Pertokoan Pelita (sekarang lokasi Gong Perdamaian Dunia di Ambon). Ia melakukan hal-hal penting dan besar sepanjang hidupnya, mendirikan organisasi sosial, organisasi kemasyarakatan sampai partai politik. Ia menjadi pemimpin partai hingga fraksi, bahkan mengambil bagian penting dalam saat-saat genting Republik Indonesia yang masih belia. Ia memang diberi penghargaan sebagai Pejuang dan Perintis Kemerdekaan namun namanya nyaris tidak dikenal, sosoknya tak akrab di mata generasi muda. Bahkan sejumlah politisi dan jurnalis senior pun saat ditanya tentang nama Om Butje Pupella, EU Pupella, Eliza Urbanus Pupella, banyak yang balik bertanya. Siapa itu?

WARTAWAN KAWAKAN
Om Butje Pupella lahir di Negeri Hila, Jazirah Leihitu di utara Pulau Ambon pada 14 April 1910. Ayahnya Ellinadus Pupella, seorang guru dari Negeri Amahusu dan Ibunya Wilhelmina da Costa. Sang ayah yang sering disapa Guru Mias, sangat menentukan jalan hidup puteranya. Meskipun sempat memasukkan anaknya ke Sekolah Rakyat berbahasa Melayu di Batugantung, Guru Mias kemudian berupaya agar anaknya bisa masuk di sekolah berbahasa Belanda, duduk sejajar dengan golongan Eropah. Om Butje bernasib baik sebab dia bisa mengenyam pendidikan yang baik sekolah di Derde Europesche Lagere School di Ambon tahun 1919-1925. Setelah lulus, Guru Mias kesulitan membiayai anaknya di sekolah lanjutan pertama sehingga setahun lamanya Om Butje putus sekolah.

Seorang pamannya tidak tega melihat Om Butje yang cerdas, pemberani, santun dan punya kerohanian baik menjadi penganggur. Sang paman itulah yang menyanggupi mengirim Om Butje belajar ke Makassar. Tahun 1927 inilah tahun sangat penting baginya sebab langsung diterima di sekolah Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) milik Belanda di Makassar. Di Kota Angin Mamiri inilah Om Butje bertemu dengan Ot Pattimaipau, seorang sahabat yang kelak menjadi tokoh tak terpisahkan dalam seluruh perjuangan.

Mula-mula, Om Butje memperkuat kesebelasan MULO. Setelah itu, dia bermain untuk kesebelasan Jong Ambon yang dibentuk oleh Sarekat Ambon pimpinan Alexander Jacob Patty. Perusahaan minyak Belanda De Bataafsche Petroleum Maatschappij (BPM) Makassar merekrutnya sebagai salah satu pemain inti, dan akhirnya menerimanya sebagai pegawai. Dalam usia 20 tahun, sebagai pegawai BPM, Om Butje mulai tertarik politik.

Sambil bekerja di BPM, ia juga menulis di surat kabar Sinar Maluku, milik Sarekat Ambon. Bersama Ot Pattimaipau, keduanya kemudian membentuk organisasi sayap pemuda Sarekat Ambon, sebagaimana di Ambon ada sayap perempuan yakni Ina Tuni yang didirikan Ina Bala Wattimena. Bahkan Om Butje bersama Nadjamudin Daeng Malewa dan D. Th Lengkong mendirikan Partai Selebes. Dari sini, setahun kemudian bersama Mr Soenaryo mendirikan Partai Indonesia Raya (Parindra) Cabang Makassar.

Keberanian dan kenekatan Om Butje terjun ke politik, ternyata membawa risiko pada pekerjaannya. Dia dipecat oleh BPM Makassar, dan diberi pilihan, pindah ke BPM Bali. Semua ini antara lain juga karena laporan polisi Belanda ke perusahaan BPM. Pasalnya, dalam satu pentas teater yang mengisahkan perjuangan Alexander Jacob Patty dari Ambon, Makassar, Bengkulu, Palembang, Flores hingga Boven Digul, Om Butje sendirilah menjadi pemeran utama untuk karakter Alexander Jacob Patty. Teater dibubarkan, dan pekerjaannya pun hilang. Meski demikian, Om Butje menerima tawaran pindah ke Bali.

Di Bali, Om Butje tidak kapok. Ia mencari kenalan dan kawan baru untuk berjuang. Bertemulah ia dengan Winarno dan keduanya mendirikan Studi Club Ganesha. Ganesha berjuang mencari dana untuk mendirikan Taman Siswa. Keduanya merangkul Anak Agung Gede Agung di Ganesha. Om Butje bahkan dipercaya sebagai menjadi sekretaris, sampai akhirnya Taman Siswa berdiri atas dukungan alumnus Taman Siswa Yogyakarta Dr Suprapto. Selama di Bali, Om Butje aktif menulis di harian Pikiran Rakyat dan Suluh Indonesia Muda. Tulisan-tulisannya yang tajam dan membangun semangat nasionalisme, membuat dirinya lagi-lagi dipecat. Pulanglah Om Butje ke Makassar.

Di Makassar, Om Butje menemukan kekasihnya Levina Mariana Munster yang dinikahinya 1934. Tidak banyak waktu untuk bulan madu, sebab suhu pergerakan makin tinggi. Om Butje memboyong istrinya ke Yogyakarta, belajar selama enam bulan di Perguruan Taman Siswa, tinggal di rumah sang pendiri taman siswa Ki Hajar Dewantoro yang juga sekaligus guru. Enam bulan lamanya Om Butje menimba ilmu di Taman Siswa. Tahun itu juga, ia kembali ke Ambon. Pasangan suami-istri ini kemudian mendirikan Balai Pendidikan yang awalnya hanya sepuluh siswa di satu kelas, akhirnya berkembang dengan lulusan mencapai 3.000 siswa.

Om Butje dan Levina beruntung karena keduanya mempunyai teman guru bernama Tjokro yang setia dan tangguh. Bahkan, ketika warga Muslim Ambon masih ragu-ragu masuk Balai Pendidikan, karena cemas dengan Kristenisasi, Om Butje menerima seorang ibu guru Muslim yakni Ibu Syukur. Benar saja, setelah Ibu Syukur hadir di sana, banyak anak Muslim berani mendaftarkan diri.

Inilah saat-saat paling sibuk dalam hidup Om Butje. Dirinya harus mengontrol jelannya Balai Pendidikan, dia pun tetap menjalankan tugas jurnalistik sebagai wartawan Utusan Maluku yang diterbitkan Sarekat Ambon. Koran ini hanya berusia dua tahun sebab akhirnya dibreidel Belanda, sebagaimana belasan koran sebelumnya yang dianggap provokatif dan melawan Belanda. Om Butje sendiri akhirnya menerbitkan surat kabar Pendidikan di bawah naungan Balai Pendidikan. Koran ini bertahan dari tahun 1937 sampai 1940, sebelum akhirnya dilarang terbit oleh Jepang.

Meskipun Balai Pendidikan bukanlah lembaga politik, kebijakannya menyerempet juga bidang politik. Hal itu terjadi ketika pada tanggal 31 Agustus 1934, Om Butje melarang seluruh siswa ikut dalam perayaan ulang tahun Ratu Welhelmina yang biasanya dipusatkan di Esplanade (sekarang Lapangan Merdeka). Bagi Belanda, sikap Om Butje adalah sebuah pembangkangan. Sebab itu, Om Butje dipanggil menghadap polisi Belanda. Banyak tokoh menyangka Om Butje akan masuk penjara seperti tokoh-tokoh keras lainnya yang berujung di balik jeruji besi. Ternyata Om Butje kembali ke Balai Pendidikan baik-baik saja.

“Saya jelaskan, bahwa tidaklah bagus merayakan secara besar-besaran seseorang yang masih hidup, dan mereka bisa terima,” kata Om Butje kepada Prof Pattikayhatu, dalam sebuah wawancara untuk penulisan biografi.

Om Butje akhirnya menjadi pemimpin Sarekat Ambon menggantikan D. Ayawailla yang meninggal dunia 27 Desember 1937. Praktis Om Butje memimpin Sarekat Ambon dan Parindra, sambil juga menjadi anggota Ambon Raad.

Keadaan Ambon berubah drastis ketika terjadi Perang Dunia II. Jepang menyerang Belanda di Ambon 30 Januari 1942. Belanda pun terusir. Tak ada lagi pemerintahan sipil. Sekolah ditutup, bahkan semua surat kabar dilarang terbit. Om Butje dan Ot Pattimaupau menghadap penguasa Jepang. Lewat negosiasi yang alot, Jepang akhirnya rela membiarkan surat kabar Sinar diterbitkan kembali namun dengan tambahan kata Matahari. Maka terbitlah surat kabar Sinar Matahari yang dibiayai Jepang. Ot Pattimaipau sebagai pemimpin redaksi. Wartawannya Om Butje, Bahmid, Amin Ely, LE Manuhua dan lain-lain.

Di surat kabar ini, naskah-naskah pidato Om Butje yang diperdengarkan di radio, dimuat kembali dalam edisi cetak. Dengan begitu, warga Ambon yang tidak sempat mendengar radio, bisa membacanya kembali. Dalam pidatonya, Om Butje mengajak warga Ambon untuk bersatu, jangan saling curiga, mau bekerja keras, dan bisa bekerja sama dengan Jepang, untuk sama-sama mewujudkan Indonesia merdeka.

“Kalau dilihat, kita bangsa Maluku seakan berada di anak tangga terbawah sedangkan bangsa-bangsa lain berada di anak tangga yang lebih tinggi. Sebab itu, mari kita bersatu dan bekerja keras supaya bisa sejajar dengan bangsa-bangsa lain di Nusantara,” tulis Om Butje dalam pidato perayaan setahun Jepang di Ambon.

Dalam naskah pidato itu, Om Butje juga mengingatkan betapa pedihnya hidup bersama Belanda. Bahkan di saat-saat terakhir, Belanda masih juga membuat susah. Tangki minyak di Batugajah diledakkan, minyak mengalir di sungai Batugajah sampai ke muara. Ambon jadi lautan api. Semua rumah di kiri dan kanan sungai hangus terbakar.

“Bersyukurlah bahwa atas perlindungan Tuhan, Masjid Jami yang juga dijilat-jilat api, tidak ikut terbakar,” ungkapnya.

Sepanjang kariernya di jurnalistik, Om Butje pernah bekerja, mendirikan dan memimpin beberapa surat kabar. Koran-koran pendidikan dan politik yang tidak terpisahkan dari garis perjuangannya adalah Sinar Maluku (1930), Utusan Maluku (1934-1935), Pendidikan (1937-1940), Sinar (1937-1942), Sinar Matahari (1943-1945), Masa (1945-1952), Pendidikan Rakyat (1946) dan Suara Maluku (1953-1955).

Ada dua peristiwa penting ketika dirinya memimpin surat kabar Masa. Pada waktu terjadi perebutan pengaruh untuk pemilihan Dewan Maluku Selatan (DMS), terjadi perang opini antara Suara Rakyat dan Massa. Suara Rakyat berkampanye bahwa jika Maluku bergabung dengan Indonesia, Maluku akan hidup susah jadi sebaiknya Maluku menjadi provinsi ke-13 Netherland. Surat kabar Masa melakukan klarifikasi dan serangan balik kepada kelompok yang disebut Blandistis, yaitu mereka orang pribumi yang mengemas diri seperti orang Belanda. Selama pendudukan Belanda, mereka mengalami kenyamanan dan hidup terpisah dari rakyat jelata yang sudah susah.

Surat kabar Masa menang opini, Buktinya, rakyat Maluku Selatan lebih banyak memilih tokoh-tokoh Partai Indonesia Merdeka pimpinan Om Butje, dan tidak mendukung kelompok Blandistis. Sebab itu, Dewan Maluku Selatan tetap didominasi tokoh nasionalis, demikian juga sampai di parlemen NIT di Makassar. Inilah yang membuat kelompok Gabungan Sembilan Serangkai (GSS) dan Partai Timur Besar (PTB) yang memperjuangkan Maluku sebagai provinsi ke-13 dari Belanda menjadi gusar. Sebagian mereka kemudian mendukung Proklamasi RMS yang mendadak di bawah ancaman senapan dan granat.

Masih sebagai wartawan Masa, Om Butje juga mendapat kesempatan meliput jalannya Konferensi Meja Bundar di Hotel Kuurhaus Den Haag, 23 Agustus – 2 November 1949. Perjalanan jurnalistik ke Belanda, lebih dari sebuah kemewahan, sebab satu-satunya wartawan Maluku yang ikut meliput adalah Om Butje. Wartawan senior Rosihan Anwar menulis nama wartawan, media dan kota asal dalam sebuah memoar. Di situ Rosihan juga masih mengingat nama EU Pupella.

“Adapun wartawan yang meliput KMB adalah BM Diah dan istrinya, Herawati (harian Merdeka, Jakarta); Adinegoro dan istri (majalah Mimbar Indonesia, Jakarta); Wonohito (Kedaulatan Rakyat, Yogyakarta); Sukrisno (Antara, Yogyakarta); Mohammad Said (Waspada, Medan); Kwee Kek Beng (Sin Po, Jakarta); Ir Pohan (majalah Spektra, Jakarta); RM Sutarto (Berita Film, Indonesia); EU Pupella (Ambon); serta Rosihan Anwar dan istrinya, Zuraida (Pedoman, Jakarta). Teman-teman sejawat tadi telah meninggal dunia. Yang masih hidup tinggal Herawati Diah (92), Rosihan Anwar (87), dan Zuraida R Anwar (86).Rosihan,” demikian Rosihan.

Keterlibatan Om Butje meliput langsung persidangan Konferensi Meja Bundar di Den Haag membuat dirinya bisa sekaligus menjadi saksi sejarah dan pelaku sejarah. Suasana batin persidangan, arah politik nasional dan internasional, tentu sangat dipahaminya sehingga dapat disampaikan pula kepada rekan-rekan seperjuangan di Ambon.

DILUPAKAN SEJARAH
Tulisan ini dibuat dengan menelusuri kembali dokumen tertulis tentang Om Butje. Satu-satunya tulisan yang cukup lengkap adalah sebuah laporan penulisan biografi berjudul Eliza Urbanus Pupella, Karya dan Pengabdiannya. Naskah ditulis oleh Drs John A. Pattikayhatu, diterbitkan Lembaga Kebudayaan Daerah Maluku (LKDM) tahun 1995. Pattikayhatu memang melakukan wawancara langsung kepada Om Butje pada usia 85 tahun. Sejumlah dokumen lain tersebar di media massa dan buku berupa fakta-fakta yang berkeping tentang Om Butje.

Tulisan memorial ini dibuat untuk menyambut Hari Pers Nasional 2017 yang dipusatkan di Ambon. Semoga wartawan, politisi, budayawan, sejarahkan dan segenap pemerintah dan warga Maluku dapat mengenang kembali sosok Om Butje. Bersamaan dengan itu, kita mengenang juga segenap wartawan-wartawan Maluku yang saaat ini tenggelam atau ditenggelam dalam sejarah dan kenangan. Sebut saja Ong Kie Hong, M. Amin Ely, Ot Pattimaipauw, Wim Reawaru, Said Bachmid, Johan Tupamahu, Gerard Engels, Ali Fauzi dan barisan panjang wartawan pejuang di masa lalu, setidaknya pada abad pertama usia pers modern di Maluku tahun 1894-1994.

Selain laporan Pattikayhatu, saat ini wajah tua Om Butje masih bisa dilihat saban hari di salah satu dinding Workshop Coffee di Waringin, Ambon. James Steven Renyaan, penggagas Workshop Coffee meminta para perupa Kanvas Alifuru melukis tokoh-tokoh penting Maluku, termasuk mereka yang nyaris dilupakan. Dua tokoh pers yang wajahnya diabadikan adalah Om Butje dan Ong Kie Hong.

Sebenarnya, untuk mengenang Om Butje, ada ruas jalan penting di Ambon yang dapat mengabadikan namanya. Misalnya Jalan Kapitan Yongker yang kemudian diubah sekarang menjadi Jalan Soabali. Di Soabali inilah lokasi Perguruan Balai Pendidikan yang didirikan Om Butje. Pilihan lain adalah Jalan dari Taman Makmur sampai ke Amahusu, kampung halaman Om Butje.

Kalau nama Om Butje tidak bisa diabadikan sebagai nama jalan di Ambon, maka ini adalah sebuah ironi, dan kesalahan membangkitkan kenangan. Seorang pejuang besar Indonesia disingkirkan dari tengah sejarah. Nama pejuang dan perintis kemerdekaan ini, kalah pamor dari Marta Alfons. Dalam sejarah dan mitologi Maluku, tidak ada tokoh bernama Marta Alfons sehingga harus diabadikan menjadi nama Jalan dari Dermaga Feri Poka ke Pertamina Cottage, dan juga nama Jalan dari Wailela ke Rumahtiga. Padahal, Martha Alfons hanyallah kesalahan menuturkan nama. Tanjung Martafons adalah penyingkatan nama Martin de Alfonzo, nahkoda kapal Portugal yang dimakamkan di kawasan Tanjung Martafons.

Hal yang lebih penting adalah Om Butje sangat memenuhi syarat untuk diusulkan menjadi pahlawan nasional. Semoga pada hari Pers Nasional, nama Om Butje akan diingat seluruh wartawan Indonesia. (Sumber: J. Pattikayhatu, Amin Ely, Rudi Fofid/foto workshop coffee, Geni)

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6711

Posted by on Jan 25 2017. Filed under artikeL, berita terbaru, budaya, Maluku. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented