|

Kalau Saya Prabowo Subianto

Catatan Rudi Fofid – Ambon

 

MALUKU ONLINE, 7 Mei 2017

 

Kalau saya Prabowo Subianto, maka hari ini saya akan panggil sekretaris saya.  Saya minta dia buatkan satu daftar lengkap, semua orang yang merasa telah menjadi korban kejahatan kemanusiaan yang saya lakukan selama saya masih aktif di dinas militer Indonesia.

 

Saya juga perlu satu tim baca, yang bekerja membaca semua tulisan, laporan, status facebook dan twitter, atau apapun yang berisi tuduhan, tuntutan, fitnahan, bahkan maki-maki. Saya memang sudah membaca dan mendengar banyak sekali, bagaimana saya dianggap sebagai pembunuh.

 

Saya berharap, dengan membuat daftar dan dokumen tersebut, saya bisa simpulkan dua hal.  Pertama, siapa yang menjadi korban, dan kedua, apa yang mereka inginkan dari saya.  Dari situ, saya akan tahu, apa yang harus saya lakukan.

 

Rencana saya begini.  Saya undang semua korban kebiadaban saya ke rumah saya.  Mereka itu mungkin perempuan-perempuan yang menjadi janda, dan anak-anak yang kehilangan ayah kandung.

 

Saya akan duduk dan mendengar seluruh keluh kesah mereka, satu demi satu.  Jadi semua dapat kesempatan bicara.  Bila perlu, mereka juga sudah menyiapkan seluruh duka lara dalam bentuk tulisan.  Jadi kalau dikumpulkan, akan menjadi satu dokumen tebal.

 

Saya bisa bayangkan, dialog macam apa yang akan terjadi.  Sedih, kecewa, marah, benci, semua pasti tercurah dalam forum itu.  Tidak apa-apa.  Tim saya akan merekam semuanya dengan segenap kemampuan dokumentasi.

 

Saya sudah duga, para janda ini akan bertanya di mana kuburan suaminya, anak-anak akan menanyakan kuburan ayahnya.  Saya yakin mereka cukup rasional sehingga tidak meminta mengembalikan nyawa, akan tetapi menuntut kerugian akibat derita selama ini, saya kira wajar saja.  Ini bukan tentang uang, melainkan tentang masa depan anak-anak.

 

Sebab itu, saya akan menawarkan kepada mereka, saya bersedia membuka kasus-kasus kejahatan kemanusiaan itu kepada mereka.  Tentu saya tetap bertahan bahwa semua yang saya lakukan adalah di bawah komando pimpinan. Saya akan beberkan di mana makam orang-orang yang dihilangkan semasa orde baru itu.

 

Selain itu, saya tawarkan pula anak-anak piatu, agar mau sekolah dengan biaya saya.  Mau kuliah sampai S3 di universitas terbaik di dunia, silakan saja.  Semua saya biayai.  Kalau sudah selesai sekolah dan tidak mendapat pekerjaan, bisa mengelola perusahaan saya yang memang membutuhkan banyak tenaga ahli.

 

Saya pasti meminta  maaf, karena akibat saya menjalankan tugas negara, mereka telah menjadi korban.  Semoga mereka memaafkan saya.

 

Saya merasa saling memaafkan adalah penting bagi sebuah bangsa sebesar Indonesia.  Kita sudah lama memproduksi musuh-musuh abadi di dalam negara ini.  Kita bagai merawat musuh, membiarkan dendam dan benci tetap tumbuh membesar.  Sudah tidak terhitung berapa banyak korban yang gugur di republik ini karena kita begitu tergesa-gesa menjadikan seseorang sebagai musuh bersama, musuh negara, musuh rakyat, musuh pribadi, lalu kita mengucilkannya, bahkan membunuhnya.  Saya kira, semua ini harus diakhiri.  Indonesia harus beranjak.

 

Kalau rekonsiliasi antara saya dengan para korban  bisa terlaksana dengan baik, saya kira ini bukan tentang saya melainkan tentang suatu bangsa bernama Indonesia.  Kita perlu saling memaafkan lalu segera beranjak.  Jangan berjalan di tempat, berhenti apalagi mundur.

 

“Tidak ada pilihan lain.  Kita harus berjalan terus karena berhenti  atau mundur, berarti hancur,” kata puisi.

 

Saya sungguh yakin, ada banyak kasus di Indonesia yang telah meninggalkan luka dendam yang abadi, tak termaafkan.  Semua ini karena kita tidak punya mekanisme dan pengalaman dalam rekonsiliasi dan pengampunan yang memadai.  Kalau saya memulainya, saya kira apa yang saya lakukan bisa menjadi model pengampunan di dunia.

 

Indonesia sendiri punya banyak masalah.  Papua, Timor Tiimur, Aceh, Lampung, Maluku, Poso, Tanjung Priok, Jakarta 1998, Pulau Buru, Madiun, Lubang Buaya, dan banyak lagi.  Bagaimana sejarah dan kenangan bisa dibangun dalam benak bangsa ini, jika kita tidak bisa saling mengampuni?

 

Pengadilan HAM?  Siapa takut.  Saya menjunjung tinggi supremasi hukum.  Hukum harus ditegakkan dalam lingkar pagar keindonesiaan yang dilandasi Pancasila yang kita pertahankan sampai hari ini.

 

Kalau orang-orang yang telah menjadi korban itu mau mengampuni saya, maka saya yakin akan mati secara puas.

 

Kalau kebetulan anda adalah salah satu korban saya, apakah anda bersedia datang ke rumah saya, kita minum kopi sembari anda marah saya di hadapan saya?  Sanggupkah anda memaafkan saya?  Atau anda mau saya masuk penjara?  Terserah, asal saja jangan anda suruh saya bunuh diri.

 

Salam!

Hiduplah Indonesia Raya!

 

Ambon, 7 Mei 2017

(Foto rmol)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

rental mobil ambon

iklan

Short URL: http://malukuonline.co.id/?p=6730

Posted by on May 7 2017. Filed under artikeL, berita terbaru, hukum. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can skip to the end and leave a response. Pinging is currently not allowed.
iklan300x50
iklan300x350 ----------------------------------- iklan300x350

Recently Commented